| Museum Nike adalah tempat menyimpan benda-benda dan kenangan almarhum semasa hidupnya. |
Kematian memang rahasia Allah. Kita gak bisa menebak juga meraba, kapan kita mati dan di mana kita akan mati. Apalagi sampai tahu, dalam keadaan apa kita mati. Mati selamanya adalah misteri.
Seperti matinya pelantun lagu Bintang Kehidupan tahun 90-an, pergi di saat karirnya melejit. Nike Ardila. Nama yang sampai saat ini masih hangat di telinga kita dengan lagu-lagu menyentuh, menyentak, dan mengasyikkan itu.
Sudah tiga puluh tahun lebih wafat, rasanya baru kemarin kita mendengarnya. Entah bagaimana di benak para pecinta dan keluarga dekatnya. Album emasnya sampai sekarang masih menjadi konsumsi masyarakat. Tidak hanya di dalam negeri, di luar negeri pecintanya masih setia mendengarkan.
Kita pasti bertanya, kok bisa begitu?
Begitulah karya yang mendekatkan kita pada almarhum. Karya itu seperti melonggarkan tabir kematian, toh tidak memisahkan. Ia seperti tembok yang memisahkan, namun terasa kita bisa mengintipnya. Baik, kita atau dia bisa saling intip. Tentu saja ini opini penulis, ya.
Kita bisa melihat dari lagu dan film yang sudah dibuat almarhum semasa hidupnya. Itulah istimewanya sebuah karya, meskipun si empunya sudah pergi selama apa pun, ia terasa masih lekat dan dekat dengan kita.
Apa bedanya kita membaca karya para ulama yang sudah ribuan abad memisahkan. Karya mendekatkan diri kepada mereka. Karya itu seperti bicara dan menarik rasa kita di dalam pikirnya. Apa yang ia pikir dan rasakan, kita ikut merasa. Apa yang ia keluh kesal, kita ikutan merasa sebal juga.
Begitulah warisan sebuah karya. Fisikmu memang bisa rapuh dan hancur, dikubur di tanah. Tidak dengan mimpi dan gagasanmu yang tercermin dalam senarai karyamu.
Nama-nama yang lekat seperti Kahil Gibran, Socrates, Imam Ghazali, Imam Syafie, Ibnu Umar dan lain-lain adalah figur yang ribuan tahun memisahkan raga kita. Namun, ketika nama mereka disebut, kita selalu merasa dekat. Dekat serasa melekat.
Aku jadi bertanya ke diriku: karyamu apa?
Nike sudah jangan dibahas kebaikannya, dengan orang terus mengenal orang di benaknya sampai sekarang, pasti ada rahasia yang Allah sembunyikan untuk kita gali. Misalnya, ia sosok yang ramah, ceria dan taat pada orangtuanya.
Tiga itu sudah cukup menjadi jaminan, kebaikan itu bakal jadi tabungan untuk diri kita. Harumnya nama kita bukan terletak pada setinggi apa kariermu dan sebanyak apa prestaimu. Itu memang penting. Lebih penting dari itu, kesan baik yang ikhlas kita berikan dari sanubari.
Keharuman tercium dari ketulusan tersebut. Kita tidak akan kekurangan orang cantik, baik dan berprestasi sekarang. Kita kekurangan orang yang jujur dan tulus berbagi tidak hanya demi cuan belaka. Ada nilai yang diperjuangkan.
Berkaca terus ke dirimu. Sudah sebanyak apa kebaikan yang dilakukan. Tulus bukan keinginan untuk dimulikan kembali. Murni karena ingin meniru sifat rahim-Nya di asmaul husna,
Semoga kita selalu ingat dan memperbanyak datangnya pemutus kematian, yakni Izrail. Kalau sekarang orang lain, mungkin sebentar lagi kita. Hanya saja, kita merasa takut dan berharap agar jangan dulu kita. Terus, kapan beraninya? (**)
Pandeglang, 13 Juli 2026 00.18
0 Komentar
Menyapa Penulis