| ||
Sungguh sebuah kebetulan, di hari kemerdekaan ini saya iseng melihat rak buku. Terlihat di sana buku mini bonus majalah Hidayah berjudul: Mereka yang Berjuang Untuk Islam dan Indonesia. Tebalnya 192 halaman. Diterbitkan oleh Variapop Group pada tahun 2012.
Kembali mengulang bacaan yang sudah lama tak saya sentuh. Tak lagi saya jamah. Karena terlalu banyak koleksi-koleksi baru. Begitulah kita, sering lupa sama yang lama karena terpesona sama yang baru, karena lebih gres dan menarik.
Buku mungil ini mengupas biografi ulama kenamaan Nusantara yang konsisten berdakwah di samping mengobarkan api perjuangan mengusir penjajah. Ada 13 tokoh yang dibahas: 5 dari Minang, 6 dari Jawa, 1 dari Bekasi, dan 1 dari Banten.
Dari semua tokoh tersebut, ada satu tokoh perempuan yang menarik di sana. Yakni, HR. Rasuna Said. Beliau tokoh perempuan vokal yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan bangsanya. Gender tidak menghalangi semangatnya untuk turun ke lapangan juang.
Alumni perempuan pertama di Thawalib, sekolah yang didirikan oleh Haji Rasul, ayahnya Buya Hamka. Kita bisa membayangkan di masa itu bagaimana realitas sosial kurang bersahabat dengan dunia perempuan.
Beliau mengawali karirnya sebagai guru di sekolahnya. Setelah itu, aktif di beberapa organisasi keislaman. Di sinilah terasah orasinya dan kepeduliaannya kepada dunia politik. Orasinya yang memukau sering memancing kecemasan kolonial.
Tak aneh, pada tahun 1932 beliau ditangkap pihak berwenang dan mendekam di penjara karena melanggar undang-undang kolonial yang membungkam kebebasan berbicara. Penjara nyatanya tidak membuat beliau jera. Justru di sana beliau menyiapkan amunisi untuk berjuang selepas dari hotel prodeo.
Melihat beliau, kita patut bangga. Santriwati (di masa itu) turun berjuang ke lapangan, bahkan sampai muncul ke pentas nasional, bukanlah gerakan tanpa risiko. Kalau R.A. Kartini terkenal dengan gagasannya untuk mengangkat harkat perempuan pribumi lewat surat-suratnya, berbeda dengan H.A. Rasuna Said yang gagasannya dituangkan dalam gerakan nyata.
Beliau vokal mengkritik budaya poligami di daerahnya yang merugikan kaum perempuan. Padahal itu sudah menjadi kebiasaan kalangan priyayi, menak dan ulama di masa itu. Beliau lantang bicara atas ketidaksetujuannya. Baginya, perempuan punya hak yang sama untuk mencapai kebahagiaannya.
Di masa pemerintahan Bung Karno, beliau masuk parlemen sebagai perwakilan Sumatera Barat, bahkan sempat menjadi Dewan Pertimbangan Agung pemerintahan Bung Karno. Selain itu, beliau terkenal sebagai pemimpin redaksi Majalah Raya dan Majalah Menara Puteri sebelum kemerdekaan.
Beliau memang sudah pupus pada 2 November 1965, namun jasa dan dedikasinya tetap hidup di jiwa rakyat Indonesia. Status perempuan tidak membuat beliau kecil hati, apalagi simbol kesilapan (misalnya kerudung) biasanya jadi bumerang.
Beliau membuktikan bahwa negerimu butuh sumbangsih tulus, bukan sekadar pencitraan belaka. Pada akhirnya, bukan gender yang menghalangi kita berkarya. Tetapi kemalasan dan ketidakberanian membuat kita tak punya akses.
Selamat hari jadi Indonesia ke-81, jaya dan makmur selalu, negeriku. Tetap menjadi payung keadilan untuk semua anak bangsa. Terus menjadi rumah hangat untuk semua. Memeluk perbedaan dengan kasih sayang. (**)
Pandeglang, 21 Agustus 2026 23.18
0 Komentar
Menyapa Penulis