"Masalah klasik perpustakaan itu tidak pernah menjadi prioritas," kata Prof. Aminudin, selaku kepala Perpusnas, dalam sambutannya di acara Festival Bubur Literasi 2026 tadi. Terdengar ironi memang. Kita ingin menjadi daerah yang maju dengan kesadaran literasi yang tinggi, namun pada saat yang sama, sarana dan prasarana kurang layak.
Gong itu terasa makin mendebarkan ketika beliau secara lugas menyebut Pandeglang sebagai daerah faqir miskin secara fiskal. Itu disampaikan di depan bupati dan jajarannya. Kontannya saja itu menjadi tertawaan peserta yang ada. Menertawakan kenyataan pahit yang memilukan.
Apalagi berkali-kali Ibu Kadis curhat kepada beliau, kantor perpusda Pandeglang sudah tidak layak dengan gedung perpus sendiri bekas rumah sakit.
"Herit pak mun ceuk urang Pandeglang, mah. Apalagi katanya suka ada suster ngesot segala, untungnya saja sudah diusir oleh para kiai dan ustaz," ujarnya, terkekeh penuh greget. Sangat sarkas.
Pegiat Literasi
Acara ini bisa dikatakan sebagai momen berkumpulnya para pegiat literasi di Pandeglang. Mereka yang tidak jemu membagi cahaya kata dan harapan kepada warga. Aku melihat wajah-wajah sederhana, tapi terlihat sorot penuh semangat.
Ya, sorot itu yang menggemburkan literasi di Pandeglang. Mereka yang diamnya berpikir agar Pandeglang melek literasi. Mereka yang nyata bergerak, seperti apa pun Pandeglang kata orang, di matanya harus maju dengan warganya yang cerdas, berani dan berpengetahuan.
Kalau selama ini aku bertanya, adakah di Pandeglang yang peduli dengan literasi?
Suara yang nyaring di luar terkait Pandeglang, katanya indeks pembangunannya rendah. Tidak cukup segitu. Indeks literasinya menyedihkan. Semakin sempurna dengan PAD-nya, dikelompokkan amat menggalaukan rasa. Faqir anggaran!
Menyaksikan para pegiat literasi yang berwajah teduh dengan senyum manis, itu sebuah jawaban, Pandeglang memang akan baik-baik saja kalau kita bergerak bersama.
Dengan menggondol piala juga penghargaan dari dinas terkait; itu menjadi pertanda ikhtiar mereka dilihat. Apa yang mereka lakukan dipantau dan diapresiasi juga. Artinya, masih ada yang peduli dengan gerakan literasi.
Peserta Bimtek Hanya Jadi Penonton
"Kita cuma menjadi penonton doang," kata Wanda, peserta kepenulisan di sampingku.
Saat yang lain satu per satu naik ke panggung, kami hanya diam sambil tersenyum menyaksikan. Ternyata, kami hanya menjadi penonton belaka. Di pikiran kami, kami pasti naik panggung.
Setelah sambutan bupati atau kepala Perpusnas, ada momen para dipanggil naik ke panggung lantas berbaris. Nanti salah satu dari kami akan diberikan secara seremonial oleh Ibu Kadis atau Perpusnas. Kami menunggu. Nampaknya, memang tak ada.
Karya dan tulisan itu dibagi-bagi justeru di akhir acara. Agak mengherankan. Sebab, apa yang kami baca dari surat undangan ada sebaris kalimat yang lugas "sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan atas pemikiran dan gagasan " di paragraf kedua.
"Mungkin panitia sibuk, jadi berpikir ke sana," kata Pak Yazid menenangkan. Di antara kami memang hanya beliau yang paling sepuh. Itu yang membuat pandangan belaiu berbeda dengan yang lebih muda.
Lagian, dipikir-pikir, siapa kami dari mereka yang diberi penghargaan itu? Kalau kami hanya menulis dari berbagai proses penelitian lapangan dan konfirmasi ke sumber primer, itu tidak apa-apa dibandingkan dengan mereka, pegiat literasi yang sangat layak. Selama ini memberi obor literasi kepada khalayak nyata. Lah, kami?
Anak-Anak Berprestasi
Dari rangkaian acara yang ada, fashion show memang menjadi perhatian terbanyak. Apalagi saat, si gemoy jatuh lantas dengan wajah panik namun bisa mengendalikan diri karena penyemangat dari mc yang sangat aktif,
Ya, kita ternyata tidak kehilangan anak-anak cerdas. Putera daerah yang bisa mengharumkan kotanya. Anak-anak yang memberi harum semerbak pada kota di mana ia lahir dan dibesarkan.
Aku pun sempat menonton video teman-teman peserta video literasi, di antaranya pemenang pertama, yaitu Mita Marwiah dengan Gerbong Aksara-nya. Itu sangat keren dan amat menggugah. Manusia dengan segala kesibukannya sering lupa jalan untuk pulang ke keceriaan.
Akhirnya, kebosanan sering menjadi pintu terbuka bagi penyakit mental pada mereka yang tidak mampu mengelola hidupnya. Dalam sekali memang poin video yang pantas disebut film singkat tersebut. Aku sampai berkaca-kaca menontonnya.
Tugas Kita Belum Selesai
Festival Bubur Gembur itu memang harus jadi momen menggemburkan minat baca kita. Itu yang dikatakan Ibu Bupati dan Ibu Kadis yang kerap diulang.
Artinya apa? Tugas kita ternyata belum selesai, teman-teman, hanya dengan menuliskan apa yang kita tahu tentang kekayaan geopark, hayati dan budaya Pandeglang.
Lebih dari itu, ada kesadaran yang harus kita pikul bersama: bagaimana caranya agar angka melek literasi di kota kita sangat mencerahkan. Seperti cerahnya senyum perempuan yang berseragam dengan kacamata bening yang duduk amat jauh dariku. Entah siapa.
Ya, senyum yang tulus dan penuh warna. Senyum yang menyimpan harapan dan mimpi. Di balik keramaian itu, aku meraba hatiku,
"Ah, ternyata aku belum bisa move on dari kenangan kemarin."
Hiks! []
Pandeglang, 22 September 2026 23.31



0 Komentar
Menyapa Penulis