Empat Jam di Pelatihan Khatib Ikadi Pandeglang

Sesi dokumentasi di akhir acara. (Dok panita)

Pelatihan nasional 10.000 khatib Ikadi termasuk acara yang on-time. Saya kira, janji tepat waktu sekadar lip service belaka; ternyata itu benar adanya. Sekitar 50 peserta hadir dari beberapa wilayah Pandeglang dan Lebak.

Agak kikuk pas baru datang, bahkan sampai salah alamat. Sampai pemilik warung makan sebelah bertanya, "Salah tempat ya, a?" katanya.

Saya tersenyum simpul. Tempatnya di Saung Kita, letaknya di sebelah warung tersebut. Sejenis resto mungil yang menghadirkan suasana pedesaan; saung di atas kolam ikan dan dikelilingi sawah.

Bagaimana tidak kikuk, ternyata yang hadir bukanlah kalangan yunior macam saya. Sejauh yang saya lihat, kebanyakan orang-orang yang secara usia dan ilmu jauh lebih senior dari saya. Di sana, hanya Pak Yajid yang saya kenal, dan memang dari beliaulah saya mendapatkan undangan.

Pelatihan ini sendiri dilaksanakan di aula yang cukup mungil. 50 peserta dan belasan panitia cukup membuat ruangan penuh.

Rangkaian Acara

Acara dibuka dengan sambutan dari Pak Yajid selaku ketua pelaksana. Ada pembacaan ayat suci dari panitia, dilanjutkan sambutan hangat dari Ibu Ratu selaku perwakilan dari instansi pemerintah. Poinnya, bagaimana para dai ini bisa menjadi penyejuk di tengah kegersangan hoax dan alam media yang dinamis.

Pemaparan itu diperjelas oleh Ustaz Ucu sebagai pemateri pertama. Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia dakwah, beliau menyampaikan paradoks di lapangan. Sebagai alumni Al-Azhar University, beliau menyaksikan banyak hal ganjil di tengah masyarakat kita yang perlu dibenahi.

Kalau berkaca ke masa Nabi, baik fase Makkah maupun Madinah, tantangan terhadap dakwah memang tidak mudah. Dari mulai dicap teroris, di-embargo ekonomi, sampai diperangi adalah fase panjang perjuangan.

Walaupun kata Ustaz Ucu, ada perbedaan proses masuknya Islam ke Indonesia. Islam masuk melalui jalur perdagangan yang dilakukan kalangan Hadrami. Ini fakta sejarah, katanya.

Sebenarnya banyak sejarawan mempertanyakan ini. Misalnya, buku-buku sejarah umum justru menyebutkan kalangan pedagang dari India adalah yang mempelopori dakwah ke Nusantara, bukan Hadrami. Pendapat lain mengatakan Islam dibawa oleh kalangan ulama Turki, dan ada pula yang berpendapat dari Jazirah Arab.

Namun, semua sepakat bahwa Islam masuk secara damai dan alami. Buya Hamka sendiri berpendapat Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Kalau ini benar, artinya hal itu terjadi di masa para sahabat atau masa kejayaan Islam saat itu.

Kabarnya, di masa Majapahit tengah maju-majunya, Patih Gajah Mada telah melihat penduduk pesisir meyakini agama baru (baca: Islam) yang dibiarkan berkembang. Sebab, memang semua agama diberi ruang yang sama untuk mengamalkan ajarannya, selama tidak bertentangan dengan kedaulatan bangsa.

Namun, hari ini tugas dai semakin kompleks karena kemajuan teknologi informasi. Bagaimana paham LGBT menyebar, pornografi merajalela, pinjol, judol, hingga konten negatif mudah diakses di mana saja.

Di sinilah pentingnya kita harus melek teknologi informasi. Ruang maya itu harus menjadi perhatian kita untuk membendung konten-konten yang kurang baik. Sebab, hampir 80% aktivitas warga dunia itu berada di internet.

Wajar kalau kemudian Syaikh Yusuf al-Qardhawi rahimahullah memfatwakan wajib bagi umat Islam untuk melek teknologi. Ini penting karena di sana ada banyak wasilah yang bisa membuka kebuntuan minat orang mendengarkan dakwah. Dakwah tak lagi monoton, justru menjadi antusiasme kalangan muda untuk lebih dekat dengan agamanya.

Pemateri kedua disampaikan oleh KH. Hafiz, alumni Pondok Pesantren An-Nidzom. Di awal pemaparan, beliau mengingatkan kami agar jangan menjadikan khatib sebagai ladang usaha belaka. Memang sudah menjadi kebiasaan, tiap yang menjadi khatib pasti diberi "amplop".

Namun, jangan jadikan itu sebagai motif utama, karena di mata Allah nilainya kecil—mungkin di mata kita besar, tetapi kalau dibandingkan dengan rahmat Allah yang diberikan kepada khatib yang ikhlas, tentu tidak ada bandingannya.

Beliau membawa kitab Habib Zein dari Madinah sebagai rujukan. Sempat ada keheranan dari beliau dan peserta karena jumlah rukun khutbah yang tertera di slide. Di slide disebutkan rukun khutbah itu ada 6, karena memasukkan syahadat sebagai rukun, sedangkan yang umumnya dipahami dan dijelaskan para ulama adalah 5. Entah pembuat slide yang lupa atau mungkin punya rujukan lain yang kurang familiar.

Saya suka dengan gaya pemaparannya karena terasa cair dan tidak terkesan menggurui. Beliau melihat perbedaan furu' dengan sangat bijak. Misalnya, di beberapa wilayah teks khutbah memakai bahasa Arab saja dan tidak boleh diterjemahkan, sementara di tempat lain justru diperbolehkan diterjemahkan asal memperhatikan rukun khutbah.

Di masyarakat pun terjadi dualisme; ada yang memakai azan dua kali saat salat Jumat, ada pula yang hanya satu kali. Hal tersebut tidak perlu dipersoalkan karena satu sama lain berdiri di atas dalil. Perkuatkan saja pemahaman kita terkait pilihan itu agar, jika ada yang mempersoalkan, kita bisa menjelaskannya dengan baik.

Sesi Tanya Jawab

Sayang sekali saya tidak punya kesempatan bertanya karena durasi yang mepet. Sebenarnya, ada pertanyaan yang ingin diajukan kepada kedua pemateri. Qadarullah, al-insanu bi al-taktik wa al-Lahu bi al-tadbir (manusia berencana, Allah yang menentukan).

Terkait LGBT yang disinggung Ustaz Ucu, saya tertarik untuk memperdalamnya. Saya pernah hadir di seminar yang di dalamnya seorang psikolog menyampaikan maraknya kaum Boti di wilayah Serang. Mereka hadir "mendakwahkan hasratnya" agar bisa menguatkan kalangan termarginalkan tersebut.

Saya iseng menanggapi, apakah tren itu hanya terjadi di perkotaan dan bagaimana trennya di Pandeglang. Ibu Rita selaku psikolog sekaligus anggota DPRD Pandeglang masa itu menyampaikan fakta bahwa sebaran di Pandeglang cukup marak.

Banyak pasien beliau adalah anak-anak sekolah. Bahkan katanya, ada beberapa pasien dari Karang Tanjung dan sekitaran Cadasari. Gerakan mereka masif dan cukup meresahkan. Kaget juga disodori data tersebut. Bagaimanapun kita ini kota santri, tentu amat memilukan melihat maraknya orang-orang Boti di sekitar kita. Terkait seberapa banyak jumlahnya, wallahu a'lam.

Terkait faraidh sebenarnya ingin saya tanyakan, tapi ya sudahlah, waktunya kurang kondusif. Begitu pula kepada pemateri kedua, namun lagi-lagi saya harus gigit jari karena penanya sudah cukup banyak.

Khatimah

Pelatihan rasa pertemuan itu terasa sangat singkat. Empat jam bersama, banyak hal yang didapatkan. Bisa berbincang dengan seorang bapak yang sudah setahun ini merutinkan puasa Daud (saya lupa menanyakan namanya, beliau bekerja di Pemda Pandeglang).

Antusiasme beliau mendengarkan cukup tinggi, beberapa kali beliau menuliskan poin-poin yang disampaikan pemateri. Saya tahu karena posisi duduknya ada di belakang saya.

Berkumpul dengan orang saleh dan berilmu membuat saya merasa tersinari berkahnya. Sebagai orang awam, bisa berkumpul dan mendengarkan obrolan mereka membuat saya terlecut untuk belajar lebih baik lagi, memperbaiki diri, dan meningkatkan potensi diri.

Dunia dakwah bagi saya masih sangat baru. Bisa dikatakan saya aktif di kajian online dengan dinamika yang berbeda antara alam nyata dan maya. Terlebih, status saya yang belum menikah dan jemaah yang rata-rata perempuan, cukuplah nyata ujian tersebut.

Terlepas dari itu, hidup seorang muslim memang perjuangan dan pengorbanan. Hal itu tidak akan selesai sampai nanti kita berada di pintu surga atau neraka. Begitu kata Imam Ahmad bin Hambal. Wallahu a'lam. (***)

Pandeglang, 25 Oktober 2025 | 00.17

Beberapa momen yang ditangkap tim dokumentasi










Posting Komentar

0 Komentar