Pertanyaan Jamaah kemarin yang Masih mengganjal

ilustrais disempurnakan Ai.

 Ada pertanyaan jamaah kemarin yang masih mengganjal saat mengisi kajian di grup Lentera. Yakni, terkait mimpi bertemu suatu lafaz yang berbicara dan mengaku bahwa ia itu Tuhan, serta mengaku sebagai utusan Allah. Pertanyaan yang sederhana tapi sangat dalam maknanya.

Lalu pertanyaannya, apakah mungkin kita bertemu Allah secara mata telanjang?

Sungguh, pertanyaan begini membuatku sadar diri bahwa kapasitas ilmuku masih cetek. Aku pun menanyakan hal itu pada admin yang memang konsen mengkaji soal tasawuf. Namun, jawabannya agak menambah beban; katanya, pertanyaan itu sudah pernah dijawab, tapi tentang jawabannya kurang memuaskan.

Sungguh saya tertepok-tepok! (atau: tertegun)

Kalau orang yang konsen di bidang tersebut saja masih sangsi pada datanya, apalagi aku yang masih awam? Namun, karena pertanyaan itu memang ditujukan kepada saya, maka saya jawab secara kapasitas pemahaman saya, bahwa bermimpi bertemu Allah itu tidak mungkin adanya. Ahlussunnah wal Jamaah sendiri memang membenarkan kita bisa bertemu dan melihat Allah secara mata kasar, tapi itu bukan sekarang, melainkan nanti di surga.

Oleh sebabnya, tidak ada jawab jelas terkait persoalan ini karena memang pengetahuan penjelas belum mumpuni.

Sebenarnya, ketika pertama mendengar pertanyaan ini, mengingatkan aku pada peristiwa yang dialami Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang katanya pernah dinaungi oleh awan besar di kepalanya saat mengadakan perjalanan. Lalu awan itu mengaku bahwa ia gusti Allah yang menjelma menjadi awan. Syaikh Abdul Qadir yang kritis justru bertanya, "Apa buktinya Anda itu Tuhan?"

Kata awan itu, khusus beliau diberi keringanan hukum, yaitu menghalalkan yang haram yang selama ini dilarang. Beliau langsung tersadar dan lantas berbicara lantang, "Tak mungkin Engkau Tuhan, karena mustahil Tuhan menghalalkan sesuatu yang Ia larang!" Ternyata benar, awan itu penjelmaan iblis dan konconya.

Sayangnya, aku ragu untuk menyampaikan itu padanya. Entah kenapa.

Aku juga menambahkan bahwa melihat Allah itu adalah hal yang mustahil, berbeda dengan bertemu baginda Nabi secara langsung di mimpi. Bahkan ada kisah seorang ulama yang bisa melihat Nabi bi nadhor saat terjaga. Ini bukan sekali, tapi berkali-kali. Tidak ada ulama yang mempersoalkan ini karena memang percaya dengan pengetahuan dan amal salihnya. Kualitas imannya sudah mantap, maka ketika dibuka hijab dirinya, bukanlah hal yang mustahil.

Lagi-lagi, tidak bisa aku jawab sepenuhnya. Kalau yang konsen di bidang itu saja masih ragu, apalagi  yang bukan ahlinya?

Posting Komentar

0 Komentar