| Ilustrasi orang yang baik di luar, sedangkan saat sendiri tak terkendali. (disempurnakan AI) |
Di hadapan layar gawai dan panggung media sosial, kita sering kali menjadi sutradara sekaligus aktor terbaik bagi citra diri kita sendiri.
Kita bisa menampilkan senyum paling ramah, kutipan paling bijak, dan berbagai kebaikan yang terlihat rapi.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
siapa diri kita yang sebenarnya ketika semua lampu kamera dipadamkan?
Saya sering kali ingin menertawakan diri sendiri setiap kali berkaca pada kalam Sayidina Ali karramallahu wajhah. Beliau pernah mengingatkan tentang pentingnya menjaga iffah—yakni ketahanan diri dan kehormatan—terutama saat seseorang sedang sendirian.
Sederhananya, seseorang tidak hanya dituntut salih ketika berada di hadapan banyak orang, tetapi justru sepantasnya ia tetap menjaga kesalehan itu saat tak ada satu pun manusia yang melihatnya.
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi praktiknya luar biasa sulit. Tantangan terbesar hari ini adalah kita hidup di era digital, di mana segala hal dapat diakses dengan begitu mudah dalam genggaman.
Ujian hari ini bukan lagi sekadar menjaga diri di keramaian, melainkan bagaimana ibu jari dan pandangan kita dikendalikan saat sendirian di balik pintu kamar yang terkunci.
Secara fisik kita mungkin sedang sendiri, tetapi dengan layar gawai di tangan, pertanyaan jujurnya: apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?
Di sinilah ujian iffah yang sesungguhnya diuji.
Oleh karenanya, ketika ada orang yang memuji diri saya baik, pujian itu sering kali terasa seperti sentilan batin yang menohok: memang kamu sudah sebaik itu?
Anggaplah saya memang sudah baik. Baik dari segi apa dulu? Mungkin dari segi tampilan luar, boleh lah rapi dan meyakinkan. Namun, apakah tampilan luar saja sudah cukup menjadi ukuran integritas seseorang?
Jika kebaikan hanya sebatas apa yang tampak—baik dari pakaian yang dikenakan, simbol-simbol yang melekat, atau fisik yang terlihat—maka kita tidak ada bedanya dengan topeng monyet.
Apa yang tampak di permukaan terlihat begitu tertib dan memukau, tetapi di baliknya tetaplah insting dasar seekor primata.
Kita sering kali menertawakan atraksi topeng monyet bukan karena hewannya hebat, melainkan karena ada kelucuan melihat seekor monyet bisa bertingkah selayaknya manusia.
Jangan sampai kebaikan kita di hadapan publik hanyalah sebuah "pertunjukan topeng", di mana kita tampak mulia di atas panggung keramaian, tetapi kehilangan kendali dan esensi moral saat tirai panggung ditutup di ruang sunyi.
Mari belajar perlahan-lahan—bukan agar dipuji manusia, tetapi agar kita tetap jujur pada diri sendiri dan Sang Pencipta di dalam sunyi. Iffah teruji justeru saat kamu sendirian, bukan saat di depan orang. Wallahu'alam. (**)
Pandeglang, 05/11/26 23.40
0 Komentar
Menyapa Penulis