![]() |
| Gambar dibantu AI |
Semalam suntuk aku berdiskusi dengan ustaz Ismail dan Ustaz Zakaria via panggilan WA. Awalnya memang meminta kesedian aku untuk rutin mengisi kajian di grupnya. Rutin malam kamis. Aku sempat menolak. Bukan apa-apa, aku bisa apa rutin mengisi kajian?
Selain itu juga ingin agar masuk jajaran kepengurusan di grup-nya. Heran sih aku, kok bisa begitu, ya. Aku ini bisa apa, sih, diberi tanggung jawab sebesar itu. Bisa dikatakan aku orang baru juga, tentu perlu pengalaman juga ilmu mumpuni di tahap itu.
Setelahnya, dengan berat hati dan hitung-hitung belajar mencari pengalaman, aku menerimanya. Bismilah saja.
Ternyata, di sesi obrolan itu aku kenal kalau hanya aku dari Sunda, dua dari Jawa dan dua lagi Madura. Madura ini yang entah kenapa menjadi perhatianku. Mendengar kata Madura, serasa ada sesuatu yang menggedor jiwa. Sesuatu yang ngilu di hati.
Lama-lama akhirnya aku membuka diri. Dibuka sejelasnya aku yang terbelit rasa dengan orang Madura. Aku pun cinta dia, tapi dia yang duluan cinta aku. Dia anak bapaknya, dan aku anak Emak. Orang Tanah Merah yang manis. Namun kini, dia pergi mengembara menuntut ilmu nun jauh di sana.
Hiks.
"Sampean kalau jadi sama orang Tanah Merah itu, kabari saja saya. Nanti saya tunggu di Surabaya atau di Suramadu," kata Ustaz Zakaria asal Sampang, Madura, menawarkan diri mengantar kalau ada upaya serius aku padanya.
Mendengar itu, agak terkejut. Tawaran itu tiba-tiba menambah rinduku padanya makin terasa. Tawaran itu makin mendekatkan jalanku untuk sampai di kampung halamannya.
Dari obrolan soal asmara, ta'aruf, merambah kepada diskusi soal poligami bahkan sampai isu nasab.
Lucu sih, membahas poligami ini karena baru dua yang sudah menikah sedangkan sisanya masih ikhtiar menjalani takdirnya. Lebih lucu, aku yang memulainya. Hihi.
"Kalau sampeyan bahas poligami di grup, aku mau turun duluan," kata Bunda Zahra yang agak merajuk karena gak setuju saat aku akan bahas poligami di kajian. Agar memintaku mengisi kajian minggu lalu.
Padahal ya bercanda, namanya bercanda ya bisa benar atau enggak. Eh, saat kumpul para admin itu aku kembali membicarakan hal tersebut. Terjadilah adu argumen cukup alot antara pro-kontra. Bagaimana landasan fiqih pun realitas di lapangan terkait praktek demikian.
"Bagaimana menurut sampeyan terkait isu nasab kemarin? Apa dan bagaimana pandangan jenengan ustaz," tanya Ustaz Ismail.
Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sempat ingin aku tanyakan. Qodarullah, beliau duluan yang memulai. Dimulailah diskusi yang lebih alot dan mendalam. Perihal isu nasab ini, bagaimana persepektif ulama di Madura dan asumsi kami.
Aku sampaikan, isu nasab ini di Banten, sebenarnya tidaklah sepanas di beberapa wilayah Nusantara. Jauh menarik ketika Ustaz Ismail menyampaikan bahwa di Madura itu ada lembaga pencatat nasab.
"Di sana itu ustaz, ada sejenis catatan lama yang dibuat tetua dulu terkait silsilah turunan sunan. Biasanya, digunakan untuk kebutuhan primer saja. Misalnya silsilah tawasulan. Lagian di sini, kami tidak terlalu menomorsatukan nasab. Di atas itu adalah ilmu dan ketaatan," kata ustaz muda tersebut.
"Soalnya dari mereka itu banyak oknumnya Ustaz, ini loh yang jadi masalah. Lagian saya kurang terlalu matkul," sambung ustaz Zakaria.
Banyak sebenarnya dan tentu saja lumayan panjang kali lebar yang kami bahas. Namun, azan magrib sebentar lagi berkumandang. Oleh karenanya, semoga rahmat Allah untuk kita semua. (**)
Pandeglang, 01 November 2026 17.54

0 Komentar
Menyapa Penulis