![]() |
| Ilustrasi dibantu Ai. |
Karena begitu agungnya cinta itu kita pun berharap mendambakan kisah demikian. Kisah yang mengharumkan nama kita dalam deretan kisah penuh kehangatan. Pantaslah kalau sampai ibunda Aisyah dibuat cemburu karenanya.
"Aku tidak pernah cemburu sebagaimana kecemburuanku terhadap khadijah; karena nabi sering menyebut-nyebutkan namanya," ujar isteri kesayangan nabi tersebut.
Namun nyatanya, cinta nabi pada Khadijah tidak pernah bergeser. Bahkan sampai 15 tahun kepergian Ibunda Khadijah, nama itu selalu lekat di ingatan dan lisan nabi. Sebagai bukti nyata cinta itu, nabi pernah menyembelih hewan dan dagingnya dibagi-bagikan kepada teman-temannya Ibunda Khadijah.
"Seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita selain khadijah," begitu komentar ibunda Aisyah dengan penuh kesal.
"Memang begitulah keutamaan dan kemuliaan Khadijah. Darinya lah aku mendapatkan anak," balas nabi dengan kata-kata isterinya.
Bahkan di riwayat lain menyebutkan Nabi sampai dibuat marah dengan kecemburuan isterinya; ketika Ibunda Khadijah disebut "wanita tua dan sudah meninggal".
Jawaban nabi tak kalah menyentuh dengan berujar,
"Allah tidak memberikan ganti kepadaku yang lebih baik darinya. la telah beriman kepadaku saat manusia tidak ada yang beriman, dia membenarkanku saat manusia mendustakan, dia mengeluarkan hartanya untukku saat manusia tidak mau memberikannya. Allah mengaruniaiku anak darinya, sementara tidak dikaruniakan kepadaku dari selainnya!' (Musnad Ahmad, nomor 24864)
Lalu, kita bagaimana?
Kamu adalah perempuan akhir zaman dengan segala warna dan ujian yang pastinya tidak sesempurna ibunda khadijah. Begipula laki-laki yang mencintaimu bukan laki-laki segagah pun seagung baginda Nabi. Semua punya kekurangan yang tidak layak diperbandingkan.
Hanya saja, kita bisa meniru yang kuasa dilakukan.
Nabi begitu perhatian dengan pasangannya. Saking sayangnya tak ingin melihat isterinya menderita pun terluka. Cukup dirinya menjadi tameng rasa perih itu.
Bunda Khadijah tak kalah setia. Beliau sosok yang selalu ada untuk Nabi, baik ketika keadaan penuh duka dan luka. Awal dakwah nabi itu sangat krusial. Hampir semua penduduk Mekah membenci nabi. Tak ada yang menyokong biaya dakwah pastinya tidaklah murah.
Kisah yang selalu abadi adalah peristiwa turunnya wahyu pertama. Betapa psikologi nabi amat berat karena bertemu dengan Jibril. Cemas, takut dan bingung menyatu. Di sini hadir sosok keibuan nan penuh cinta menguatkan jiwa nabi.
Sosok yang menyelimuti nabi serta memeluknya dengan penuh cinta. Mendengarkan kata demi kata yang diujarkan manusia mulia sepanjang abad tersebut.
Kalau hari ini hubunganmu dengan dia yang kamu sayangi tidaklah baik-baik lagi. Jangan lari lantas mencari hati lain sebagai pelarian. Hadapi dan peluk semua itu untuk kamu saling menguatkan.
Pasanganmu bisa salah, ketika itu bisa diperbaiki, kembali lah untuk islah. Rujuk untuk niat mendapatkan curahan kasih Allah. Jangan curhat di media sosial, apalagi berharap viral. Yakinlah itu akan berujung pilu.
Memintalah pada Allah. Curahkan pada-Nya. Kalau tidak bisa, meminta bantuan pada orang yang mungkin bisa memahami isi hatimu. Orang yang bisa membuat kamu jujur dan bicara apa adanya padanya.
Itu kan yang dilakukan Bunda Khadijah, ketika Nabi terus saja berujar karena cemas, beliau mengajak kepada saudaranya yang ternyata seorang tokoh agama di masanya. Kita pun bisa begitu, kenapa harus dipendam, saat semua tak lagi mampu ditahan? (**)
Pandeglang, 10 Oktober 2026 17.49

0 Komentar
Menyapa Penulis