Kasus Asusila yang Sungguh Asu

 


Tiba-tiba saya dapat kabar, adik dari teman saya terciduk pihak kepolisian tengah melakukan perbuatan asusila di Tol Serang-Panimbang. Dua pihak polisi yang menegur dan bertanya mendapatkan perlakuan tidak baik. Keduanya sekarang tengah dirawat di Rumah Sakit Kramat Jati.

Sungguh, ini pukulan yang telak sekali di ulu hati. Saya tahu dengan yang bersangkutan. Meski pun tidak dekat, tapi keluarganya sangat saya kenal.

Mudah sekali bagi Allah menurunkan derajat manusia. Mudah bagi Allah membuka aib manusia serapi apa pun menutupinya. Kita bisa bangga dengan kemuliaan yang kita miliki. Namun, perlu dan harus kita ingat, semua akan diuji.

Bahkan media mengabarkan, bahwa pelaku adalah guru pesantren. Makjleb banget. Guru pesantren sama saja ustaz. Ustaz sama saja simbol utama dalam hirarki keislaman. Keluarga besarnya memang punya pesantren.

Orang, mungkin ada yang mudah saja berkata, islam tercoreng gara-gara kasus ini. Sejatinya tidak. Islam akan tetap tinggi, suci dan agung. Yang jatuh adalah pelaku maksiat. Terlepas, siapa dan bagaimana pun statusnya.

Saya jadi ingat kalam dari sayidina Ali, bahwa kata beliau, yang sulit itu menjaga iffah (kemuliaan diri) ketika di tempat sunyi. Di depan orang, mudah saja kita dipanggil ustaz. Kita menerima itu dengan senang hati.

Padahal kita sangat sadar, diri kita belum pantas disebut. Jiwa kita belum layak untuk menerimanya. Bukannya kita banyak merenung dan melatih diri agar lebih pantas kalau orang menyebut kita mulia, yang ada kita malah menikmatinya.

Di depan orang belaga paling soleh. Di dalam kamar, di tempat sunyi, di tempat yang tersembunyi, kita adalah bagian orang-orang yang hanyut dalam maksiat. Kita rajin mencaci dan menghina sikap dan pelaku maksiat, diam-diam kita pelakunya.

Astagfirullah, astagfirullahal adzim...

Hanya saja, yang kita caci terlihat orang. Sedangkan maksiat kita, hanya kita dan Allah yang tahu. Semua bisa kita bodohi. Namun Allah, selalu punya rencana mempermalukan ahli maksiat dengan caranya sendiri.

Oleh karenanya saudaraku, jangan caci maksiat untuk pamor saja. Berkacalah kepada diri agar kita tidak terperosok sebagaimana mereka yang Allah buka aibnya. Wallahu'alam. (**)

Pandeglang, 07 November 2026  00.27

Posting Komentar

0 Komentar