Bukan Cuma Badak dan Baduy: Menguak Pesona Pandeglang Lewat Buku

 

Tampilan buku Tiga Harmoni.


"Suatu saat, aku akan keliling Indonesia," kata yang sempat kukatakan kepada dia, gadis yang empat tahun ini menemani hariku.

Sayangnya, saat buku antologi aku dan kawan-kawan terbit, ia tidak ada. Pergi mengembara mencari pengetahuan ke negeri para kekasih Allah nun jauh di sana.

Aku ingin memberitahunya, buku ini mengulas tentang budaya dan kekayaan lokal kota kami, Pandeglang. 

Ada sejarah yang selama ini tersembunyi. Ada kisah yang menarik terkait kekayaan lokal yang hidup di masyarakat. Ada pula destinasi wisata yang selama ini luput dari perhatian kita di kota para santri ini.

Apa itu?

Di halaman 71, Dian Damayanti menceritakan kekayaan alam di Curug Sawer, Cigeulis. Ada aliran serupa air terjun terbentuk alamiah. Jernih dan amat menyejukkan.

Sayangnya, untuk sampai di sana aksesnya tidak mudah. Kita harus menyusuri jalan perkampungan, lalu melewati ke gang-gang yang cukup melelahkan karena hanya bisa diakses dengan sepeda motor.

Dian juga menuliskan, kondisi Curug juga tidak ada pengelolanya. Sempat ada, tapi karena krisis kepentingan pengelolaannya kembali ke masyarakat.

Padahal sebelumnya, cukup banyak pengunjung singgah di sana. Baik lokal maupun dari luar kota. Krisis itu berpengaruh kepada pengunjung yang datang.

Di halaman 138, Ipat Fatihah menceritakan ada destinasi wisata yang perlu kita kunjungi: Pantai Cipenyu. Pantai yang menjadi saksi dan meninggalkan jejak tsunami 2017 silam.

Di sini, kita akan melihat keindahan alam yang mempesona. Sebagai bagian dari  keragaman bentang alam pesisir Geopark Nasional Ujung Kulon. Ada gabungan warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya masyarakat lokal.

Di halaman 14, ada tulisan ikonik dari saudara Adi Supriyana, terkait pengalamannya menyelami rasa dan batin warga sekitar Pesisir Harapan Tanjung Kulon.

Ada gambaran paradoks antara kemajuan dan kesadaran masyarakat terhadap laut. Laut bagi masyarakat sana, adalah kekayaan Tuhan yang bicara. Laut bukan sekadar tempat untuk mendulang cuan yang lantas begitu saja tanpa dikelola dengan baik.

Sosok Pak Hasan yang sempat Adi potret di tulisannya mengatakan, baginya laut itu sudah seperti keluarganya. Penghasilannya benar tidak menjanjikan sebagai nelayan, namun ia tak pernah terpikirkan untuk meninggalkan laut dan segala keberkahan di dalamnya.

Bisa saja ia hijrah ke kota mengadu nasib, lantas, siapa nanti yang mau menjaga laut? Katanya diplomatis. Apalagi dengan kenyataan bahwa anak-anak muda lebih tergoda merantau ke kota daripada menghidupkan dan merawat laut dengan segala pesonanya.

Mengingat cerita Pak Hasan tentang lautnya, aku teringat pada niatku mengelilingi Indonesia. Namun, sepertinya aku harus mengurungkan niat itu, karena ia terlanjur berangkat justru menjelang launching buku tersebut di depan kantor Perpusda Pandeglang, Selasa, 24 September 2026 silam.

Padahal aku ingin memberitahu, tulisan kami yang melibatkan 50 penulis lokal diterbitkan dibagi dua jilid buku. Tulisanku masuk ke jilid pertama dan berada tepat di akhir halaman. Ngenes banget nasibnya, ya?

Menurutku, buku ini memang cocok buat siapa saja yang ingin mencari buku yang mengulas budaya dan destinasi di Pandeglang.

Buku yang diberi judul Harmoni Tiga Warisan: Geologi, Hayati dan Budaya Pandeglang ini ditulis oleh 50 penulis Pandeglang. Bahasanya renyah, tampilannya ikonik dan ceritanya seru.

Karena buku ini dibiayai negara, maka tidak ada banderol harga di dalamnya. Datang saja ke Perpusnas, di sana tersedia koleksinya. Atau kamu bisa berkunjung ke Perpusda  Pandeglang.

Intinya, tulisan ini mengajak kamu lebih dekat dengan budaya dan kekayaan hayati Pandeglang. Kalau bicara Pandeglang, tidak hanya ada badak bercula satu, suku Baduy, dan Pulau Carita yang fenomenal itu.

Ada yang selama ini belum terakses media. Atas inisiasi Perpustakaan Aulia Daerah Pandeglang, kami menuliskannya dalam lembaran kertas. Setelah sebelumnya digembleng tiga hari untuk diberi pelatihan kepenulisan di gedung Oproom Setda Pandeglang.

Semoga ikhtiar kami ikut membantu menggemburkan literasi di Pandeglang khususnya, agar lebih menggembirakan dan menyenangkan jiwa-jiwa yang sunyi dari dunia perbukuan. Dan, kamu juga membacanya juga. (**)

Pandeglang, 6 Oktober 2026   00.26

Posting Komentar

0 Komentar