![]() |
| ilustrasi dokpri. |
Rasanya, lama sekali, ya.
Hari-hari berlari begitu cepat, tak menyisakan tanya dan keluh lagi. Ia berjalan sebagaimana yang diharapnya. Tak mau merepotkan rasa orang yang ditinggalkan.
"Tunggu aku sampai ramadan nanti, ya," katamu ringan mengatakan.
Ternyata, aslinya tak semudah dikatakan. Perlu waktu untuk memikirkan dan menerka kesiapan sikapnya, dan aku merasa tidak sedang kuat.
Rindu sih pasti. Resah juga sama. Namun, pada siapa hendak aku ungkapkan semua rasa ini?
Mungkinkah kamu membacanya di sana, isi hati yang bergemuruh ini?
Entah.
Biar kusampaikan saja kerinduan ini pada kata-kata agar ia menjelma menjadi sebuah jiwa. Nanti aku peluk dia, semoga saja bisa meringankan rindu ini.
Terdengar aneh, ya?
Begitulah kalau kamu tahu dan melihat aku yang tengah dipeluk kerinduan. Aku tidak enak melakukan apa-apa, meski pun jadinya memang bersikap biasa saja. Bukan karena sembuh, lebih ingin terlihat normal.
Tidak semua orang bisa memahami perasaan kita. Oleh karenanya, sudilah kapan-kapan kamu kirimkan selembar tulisan untuk aku tahu, kamu di sana baik-baik saja. Kamu sehat. Kamu tahu, aku di sini tidak sedang baik.
Aku tidak tahu, harus berapa kata harus aku tuliskan. Kata tidak akan mampu mencukupi semua resah ini. Tidak akan cukup untuk kamu tahu semua getar rinduku ini.
Tapi tidak setidaknya dengan begini aku membuktikan, kalau yang kurasa memang sebagian mampu aku tuliskan. Selebihnya, ya nanti kamu konfirmasi, ya. 😅

0 Komentar
Menyapa Penulis