"Seorang kawan yang sudah terbiasa berpidato (muhadarah) di pesantrennya tiba-tiba tertunduk ragu saat diminta menjadi pembawa acara di kampung sendiri. Ia gemetar, bukan karena kurang latihan, tapi karena takut 'kehilangan diri' jika penampilannya tidak sempurna di depan tetangga. Fenomena ini terasa janggal sekaligus menarik: mengapa jam terbang bertahun-tahun bisa kalah oleh satu rasa takut akan penilaian orang lain? Jawabannya sederhana namun mendalam: kita sering kali menjadikan penghargaan orang lain sebagai satu-satunya penopang harga diri kita. Saat pengakuan itu terancam hilang, kita merasa identitas kita ikut hancur."
"Kenapa kita begitu butuh penghargaan? Karena seringkali kita tidak cukup kuat untuk menghargai diri sendiri. Kita merasa 'berharga' hanya jika orang lain bertepuk tangan. Seperti kawan saya tadi, ia takut 'kehilangan diri' karena ia meletakkan identitas dirinya pada penilaian orang lain. Jika penampilannya buruk dan tidak ada penghargaan yang datang, ia merasa dirinya ikut hancur. Inilah sisi gelap dari kebutuhan akan validasi."
0 Komentar
Menyapa Penulis