Puasa Ke Empat belas Ramadan 2026: Habib Ja'far Terus digojlog di Log In 2026

Tangkapan layar di acar Log In. 

 Log in tahun ini agak beda dibanding sebelumnya. Onad yang biasanya ceria menemani Habib industri itu terkena kasus OTT obat terlarang di rumahnya. Akhirnya dicokok pihak kepolisian. Hal itu bertepatan menjelang Ramadan, ketika sudah biasa ia menemui Habib Ja'far di Log in.

Akhirnya, Habib bersama tim, tentu saja di sini Sohibul Channel, yakni Om Ded, memutuskan "mengistirahatkan Onad" untuk tidak tampil di Log in. Hal itu dilakukan untuk memberi pelajaran kepada Onad juga agar tak terkesan menormalisasi orang yang bermasalah dengan hukum.

Tampillah Mamat dan Tretan Muslim menemani Habib. Latar belakang mereka sebagai Stand Up ikut mewarnai Log In yang tahun ini bertema Restart. Artinya, berbeda dengan sebelumnya, tahun ini lebih banyak bicara tentang problem dan tema seputar internal Islam. Mulai polemik bid'ah, qunut dan hal lainnya yang kerap diperbincangkan khalayak.

Hal ini semakin menarik karena keduanya kerap bertanya hal-hal yang agak pedas. Bahkan tidak segan-segan menanyakan "status Habib" dan kontroversi soal isu nasab yang kemarin menggegerkan jagat Nusantara. Di lain kesempatan, ritual di masyarakat yang dituduh berlebihan dan sudah keluar dari pakem sunah disindir.

"Bukan begitu, Pak Ja'far," begitu kata Mamat yang sengaja tidak memanggil Habib di depan namanya Habib Ja'far.

Tentu saja kita tahu sikap Mamat itu bisa settingan saja sebagaimana gimmick atau memang sengaja, karena ia kurang resepek dengan panggilan. Terlepas dari itu, yang tak kalah menarik adalah sikap Habib Ja'far yang tidak terlalu mempermasalahkan, justeru menanggapi dengan mengedukasi soal isu nasab dan ritual yang ada di tengah kita.

Singkatnya, kita tidak harus setuju dengan sesuatu, namun bukan berarti bersikap sekehendaknya. Mungkin saja ada alasan yang mendasari secara dalil di belakangnya. Maka, saling menghargai perbedaan perspektif adalah keniscayaan. Begitu pula dalam isu nasab, ketidaksetujuan pandangan jangan sampai menimbulkan konflik. Ini poin pentingnya.

Log in tahun ini memang berbeda dengan tahun lalu. Banyak di kolom komentar yang masih mempertanyakan sekaligus memuji. Saya membacanya. Justeru, ini fase log in berjalan di haluan lain. Masih ada kerikil di tengah umat yang perlu dibenahi. Toleransi memang penting. Sebelum tahap itu, kita pula harus menghayati keyakinan sendiri agar tidak pandai teriak damai. Namun, sengketa acap terdengar di tengah kita.

Log In tahun ini memberi kita pemahaman betapa Habib Ja'far cerdas mengelola rasa dan logikanya meskipun berulang kali "diserang" oleh Mamat dan Tretan Muslim. Tidak kita dengar kata caci dan maki yang kerap terlihat di media sosial. Ketiak habib disenggol, lantas bicara,

"Kamu tidak tahu saya, Habib?!" Ujarnya, "Di tubuh saya ada darah Nabi yang mengalir. Menghina saya sama saja mendustakan Nabi."

Alih-alih merespons secara emosional, padahal itu bisa aja. Beliau dengan raut wajah kasihnya itu memilih menjelaskan dari sisi tradisi keislaman yang memang sudah hidup sejak lama. Mungkin secara qot'i tidak ada dalam ajaran Islam. Tapi secara pesan termaktub dalam ajaran Islam. Hanya saja yang membedakan adalah penafsiran soal teks agama.

Ini yang membuat Islam kaya dengan pandangan. Misalnya, mayoritas kita pasti memahami bahwa anjing itu najis dan haram apa pun yang terkandung di dalamnya. 

Namun, ormas Persis punya pandangan lain, katanya anjing itu tidak najis dan tidak apa-apa kalau dagingnya dimakan. Alasannya sederhana: ayat suci tidak menjelaskan itu. Di hadits memang ada, namun itu gugur karena di ayat suci tidak ada.

Oleh karena itu, perbedaan pandangan itu selayaknya membuat kita kaya dengan pengetahuan agar lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan penafsiran. Bukan malah, membuat kita lebih tertutup dengan ruang kehangatan persaudaraan. Bagaimana menurutmu? (***)

Pandeglang, 4 Maret 2026   23.24

Posting Komentar

0 Komentar