| Ilustrasi hijan sore/Sumber: www.anakresma.com |
Malam ini sendu sekali. Hujan menyirami tadi sore, bahkan di waktu magrib dengan cukup deras. Kontan saja membuat udara terasa adem, sunyi, dan syahdu. Kesejukan itu merasuk di sukma memberi makna dan kata.
Sendu itu yang memang dirasakan kamu karena rasamu tidak baik-baik saja. Orang yang menginginkan kamu agar bisa mendampingi anak bujangnya kembali datang, lagi dan lagi menawarkan diri. Tentu aku bisa bayangkan seperti apa rasamu. Tidak mudah.
Mungkin kita bisa menguraikan pada kata: lebih baik memilih jodoh sendiri atau dijodohkan orang tua. Di masa kita sekarang, di mana teknologi informasi amat maju, seharusnya proses pencarian jodoh lewat orang tua sudah kurang relevan lagi.
Kita sudah punya banyak akses dan cara untuk mendekati orang yang kita sayang, entah lewat media sosial atau akses pertemanan yang cukup menggurita. Di masa lampau, mungkin pendekatan ini agak susah karena akses dan kondisi sosiologis yang kurang memungkinkan.
Pengalaman asmaraku, misalnya, hampir melalui media sosial atau aplikasi update yang sama kita ketahui. Itu bisa-bisa aja. Tanpa perantara yang sulit pula. Alhamdulillah, dapat baik-baik juga. Memang gak ribet kayak proses di alam nyata yang harus menggunakan rumus-rumus baku.
Jadi agak mengherankan kalau masih ada praktik perjodohan serupa di masa lalu. Kesannya, anaknya itu tidak mandiri dan orang tuanya kurang percaya pada kualitas diri anaknya.
Harusnya, soal pasangan hidup itu tanggung jawab anaknya. Berilah kebebasan dan kepercayaan untuk memilih sendiri. Tugas orang tua nanti adalah menilai dan memberi saran serta pertimbangan kepada anaknya. Terjadi nanti diskusi karena adu pandangan terkait plus-minus calon pasangannya itu.
Sebab ada yang baik di mata orang tuanya, namun kurang melegakan bagi anaknya. Anaknya mungkin diam dan menerima keadaan itu dengan santun. Di balik itu, jiwanya berontak dan rasanya tertekan. Lalu, bisakah orang tuanya menerka rasa tersebut atau pura-pura gak tahu, yang penting ia senang. Urusan anaknya suka atau tidak, gimana nanti.
Aku jadi ingat kisah sohabiyah di masa Nabi yang dijodohkan oleh orang tuanya. Dia tidak menerima dan tidak setuju. Sebagai bentuk protes, ia mendatangi Nabi dan bertanya apakah boleh menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Nabi menjawab boleh.
Nama sohabiyah itu Khanza. Ia jadi simbol perlawanan juga teladan. Kalau boleh, mungkin jadi acuan bentuk emansipasi di masa itu. Ternyata perempuan punya suara setara di hadapan Nabi. Tuduhan yang mengatakan perempuan dalam Islam kurang dihargai tidak selalu benar. Ada banyak riwayat yang menunjukkan perempuan diberi ruang seimbang, hanya tak sama dengan laki-laki.
Oleh karenanya, belajar sejarah itu penting agar kita lebih mawas diri. Baik generasi tua maupun muda. Hakikatnya, belajar itu mencari kepuasan diri dari resah yang menggelayut. Tidak selalu untuk mencari jawaban, tapi ingin menikmati sensasi pencarian. Wallahu'alam. (***)
Pandeglang, 26 Maret 2026 22.43
0 Komentar
Menyapa Penulis