Sembilan belas Ramadan 2026: Memaknai Puasa Tidak Sekedar Menahan Makan dan Minum Saja

Ilustrasi dari UNAIR.Co


 Memaknai puasa hanya sekadar menahan makan dan minum saja itu tingkatan terendah dari klasifikasi puasa. Selain itu, ada dua tingkatan lagi yang belum kita lakukan, yakni puasa khusus dan khusus li khusus. Dua puasa yang tarafnya sudah memikirkan kualitas dan nilai selama dikerjakan.

Tidak mudah. Itulah sebabnya klasifikasi ini diujarkan dalam kalangan ulama sufi, yakni mereka yang sudah merasakan esensi ajaran agama tidak hanya kulitnya, tetapi juga menjiwanya dalam pemaknaan hakikatnya. Kalau puasa seperti sekadar menahan  makan dan minum saja itu kelasnya fiqih, oleh mereka disebut paling rendah.

Meski begitu, karena tiap orang punya taraf dan kelas masing-masing dalam kehidupan, agama tetap memujinya. Kita bisa melaksanakan ibadah sebagaimana kita mampunya. Kalau sekarang baru sekadar menahan makan saja, ya sudah, yang penting konsisten. 

Buktinya, kita tiap puasa yang kita lakukan berburu takjil. Paling sederhana mungkin, kita siapkan menu makan yang berbeda seperti hari biasa. Singkatnya, karena Ramadan spesial, momen itu jadi spesial: hidangan di meja makan.'

Tidak terlarang jua. Itu hak kita. Lagian dengan tersedianya aneka menu takjil di pinggir jalan atau area publik selalu jadi kerumunan itu baik secara ekonomi. Dengan begitu, roda ekonomi berputar dengan baik. UMKM berjalan dengan lancar.

Akan tetapi maksud saya ialah, sudah saatnya kita berusaha untuk puasa tidak sekedar menahan makan dan minum saja. Ditahap lain, kita perlu mengontrol emosi dan nafsu kita. Memang tidak batal puasa sering marah-marah, suka gosip dan suka mengeluh dalam kehidupan.

Puasa itu akan berkurang nilai pahalanya. Secara tampilan, kita mungkin puasa, tapi esensi dari jiwa puasa itu kurang. Kita di bulan Ramadan taat, setelahnya biasa saja. Tiap siang kita menahan makan dan minum; namun mulut, mata, pikiran, hati, dan tangan kita tidak lepas dari kelalaian yang Allah tidak ridai akan hal itu.

Oleh karenanya, pembaca sekalian, mari kita belajar terus memperbaiki diri dan membaguskan puasa kita. Puasa yang terwarnai dengan lisan yang membuat orang senang mendengarnya dan hati kita tenang setelahnya. Bukan puasa yang membuat kita tetap saja jadi manusia yang lupa bersyukur dan sekadar ritual tanpa makna. 

Kalau kata Nabi, betapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan apa-apa, hanya sekadar menahan lapar dan haus saja. Dan jangan-jangan itu puasa kita. Wallahu'alam.[]

Pandeglang, 9 Maret 2026  23.31

Posting Komentar

0 Komentar