Tadi pagi kami silaturahim dan ziarah ke makam kakek dan nenek di Jalupang. Kampung halaman di mana bapak lahir dan besar. Kami berdoa dan meminta doa kepada pini sepuh kami yang sudah lebih dulu pergi ke alam abadi. Kami percaya kubur itu hanya dimensi lain yang menjadi pemisah kami. Hakikatnya, sama saja, kami hidup di bawah naungan kuasa-Nya.
Secara harfiah, silaturahim berarti menyambung ikatan sayang. Lengkapnya menyambung tali kekeluargaan agar tetap hangat. Selain itu, ajaran Islam juga termasuk tradisi yang asri hidup di tengah masyarakat setelah Hari Raya Idul Fitri.
Berbondong-bondong orang mudik demi memelihara tradisi ini. Kebersamaan adalah anugerah besar. Apalagi di masa sekarang, ketika mobilitas kehidupan amat sibuk. Rutinitas yang njlimet kadang bikin hati keki. Hari-hari terasa gersang, jiwa terasa meradang.
Perlu kiranya kembali momen tidak ke mana-mana dan bersama keluarga saling menyapa. Merajut kehangatan di sela-sela. Itu pun yang juga kami lakukan, berusaha menyambung rekat dan sekat sepeninggal Bapak ke alam barzah.
0 Komentar
Menyapa Penulis