![]() |
| kematian petinggi negeri Iran jadi kesedihan rakyat Iran/BBC Indonesia |
Perang yang terjadi antara Iran dan Amerika yang dibantu Israel sejatinya pengeroyokan nyata yang dilakukan oleh negeri adidaya di depan mata dunia. Ironisnya, dunia dibuat serba salah tentang bagaimana harus bertindak. Iran sendirian digempur di segala lini, sampai akhirnya beberapa petinggi negaranya berguguran akibat ledakan bom yang tak terdeteksi.
Kematian Ayatullah dan lainnya di sana, tinggal menunggu waktu saja menyasir para petinggi lainnya yang selamat. Kabar gugurnya mantan presiden lantas dikonfirmasi selamat. Itu di antara kabar yang disyukuri. Karena begitu banyak pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah, Iran agak repot harus menyerang ke mana.
Tentu saja Amerika diuntungkan dengan perang ini. Meski pun dia sebagai pelopor perang, negaranya jauh dari Iran. Tinggal Israel yang mudah dihinggapi drone dan bom-bom dari negeri para mulah itu. Jadi, Iran diserang Amerika, tapi Iran tak bisa menyerang Amerika. Dari sini saja janggal. Rakyat Iran entah berapa lagi yang gugur, sedangkan di sisi lain, warganegara Amerika terselamatkan, namun beberapa warga di sekitar kawasan Iran menjadi taruhan antara selamat dan wafat.
Lagi-lagi, perang ini hanya menghabisi nyawa rakyat, sedangkan pejabatnya terus menonjolkan di balik retorika yang memeras rasa kemanusiaan. Dari analisis, para pakar mengatakan bahwa kebijakan Amerika sekarang memang bertujuan untuk SDA. Apalagi kalau bukan itu. Tujuan negara besar menindas, ya cuan.
Walau pun agak mengherankan. Negeri sekaya itu, sebesar itu, seadidaya itu masih tergoda oleh cuan. Berbeda, misalnya, kalau kebijakan negara dunia ketiga, berburu cuan adalah maklum. Secara sumber daya, dia lemah, maka butuh asupan untuk menambah sumber pendapatan negaranya. Ini Amerika, negara yang sudah dicap Paman, masih bertingkah seperti keponakan yang kurang cuan. Seharusnya bisa lebih bijak, bukan mudah membajak hak bangsa lain.
Sampai saat ini, kita hanya menonton rudal-rudal menghujani bumi Iran. Iran pun menghujani bumi sekutu sekitarnya. Suara PBB belum terdengar lantang, pun suara-suara pasukan penegakan keamanan dunia terlihat bungkam. Sejauh ini, hanya Cina yang intens memantau situasi dan Rusia yang mengecam keras sikap Amerika yang berlebihan.
Kenyataan ini menimbulkan dugaan-dugaan; perang ketiga bukan sekadar mitos belaka. Ia bisa dan mungkin terjadi, selama pihak yang bertikai tidak mendamaikan. Nampaknya Indonesia di antara negara yang bergerak untuk mendamaikan. Walau pun Iran sementara menolak niat baik negeri mayoritas Muslim dunia ini.
Bukan tidak mungkin terlaksana kalau Amerika menganulir keputusannya. Idealnya, Indonesia bukan datang ke Iran, tapi datang ke Paman Sam. Karena bagaimanapun perang ini terjadi, bukan Iran yang dahulu menyerang, tapi Israel, dibantu Amerika, menyerang. Kemarahan Iran semakin memuncak karena para petinggi negerinya gugur.
Oleh karenanya, Iran berada di posisi terjepit dan Israel dengan sekutunya di ambang pula ancaman hujan-hujan rudal Iran. Siapa yang menang dan kalah akan terlihat nantinya. Yang pasti, nyawa warga biasa yang tak tahu apa-apa jadi tumbal perang ini, dan nama mereka tidak akan tertulis di catatan sejarah sebagai siapa-siapa. Wallahu'alam. (***)
Pandeglang, 7 Maret 2026 00.36

0 Komentar
Menyapa Penulis