![]() |
| Prosesi pemakaman Bapak, 10 Januari 2024. (Dokpri) |
Sepulang Bapak pergi ke alam abadi, banyak yang heran dan bertanya-tanya pada kami. Kok bisa se-slow itu sih menerima takdir? Bukannya pergi orang tua adalah beban berat yang tak mudah dipikul. Namun, kalian bisa menerima tanpa terdengar suara berisik-berisik yang tak perlu.
Terlihat sekilas mungkin iya, aslinya tidak semudah begitu. Ada proses perdamaian dan penerimaan yang terus kami lakukan. Aku, misalnya, paham benar bahwa dengan perginya Bapak, ada tambahan beban yang harus aku pikul dan hadapi.
Sebagai tulang punggung keluarga, menerima kenyataan itu tidak mudah. Apalagi aku sendiri menyaksikan langsung Bapak pergi, tepat di depan aku. Aku pula yang terakhir berinteraksi dengan Bapak dan tahu Bapak pergi selamanya. Hanya saja, aku memilih diam.
Diam antara yakin dan tidak, Bapak pergi secepat itu. Sakaratul maut tak ubahnya seperti Bapak kalau sudah tak kuat menahan kantuk. Tiba-tiba pergi dengan tenang. Namun aku diam seolah tak tahu, justru Emak yang pertama kali merespons dengan bilang,
"Ges kie mah, bapak mah ninggal yu," ujarnya Emak dengan berkaca-kaca. Air mata begitu lebat mengalir. Saat itu, dadaku terasa sesak dan pikiran bingung tentang bagaimana.
Aku sungguh belum siap, secepat itu!
Pada praktiknya aku yang bersikap biasa saja. Bukan tak sayang, apalagi tak sedih; justeru, di saat itu aku dituntut untuk sadar. Aku memang sayang Bapak, tapi kematian adalah hal yang tak bisa kita tolak. Oleh siapa pun dan kapan pun. Oleh karenanya, rasa sedih itu aku tahan sebisanya.
Aku menghubungi adik-adikku yang memang waktu itu di luar rumah dan ada pula di luar pulau. Aku hubungi pula keluarga Bapak dan keluarga besar Emak. Itu sekitar jam 3 dini hari. Ada yang menyahut, ada pula yang tidak. Ada yang percaya, ada pula yang meragukan informasi itu.
Puncak rasa kuat itu pun harus runtuh saat aku akan mengazankan Bapak di liang lahad. Badanku terasa lemas tak bertenaga dan air mata mengucur begitu deras. Tulang tubuhku serasa dilolosi semuanya. Aku terduduk lemas di depan jasad bapak. Ternyata aku selemah itu.
Proses pemandian, bungkus kain kafan, salat jenazah sampai penguburan adalah kenyataan yang tak mudah. Tentu saja biaya yang harus dikeluarkan, tanpa persiapan itu, bukan tanpa keputusan dan pikiran yang matang. Semua harus cepat.
Alhamdulillah, kami bisa menjalani dan menyikapi itu. Kami tidak ribut-ribut. Tidak pula sibuk mempersoalkan "harta warisan" Bapak, misalnya. Waktu itu aku hanya berpikir semua harus berjalan dengan baik. Ini masalah kami, maka kami harus menghadapinya. Ini tanggung jawab kami, sepantasnya anaknya yang harus terdepan menghadapinya.
Berangkat dari situ, masalah adalah sebuah keniscayaan. Pada siapa pun akan menyapa dan mendekati. Namun, pertanyaan yang perlu kita fokuskan bukan seberapa besar masalah itu, tapi seberapa siap dan kuat kita menyikapinya dengan dewasa.
Jangan meletakkan beban hidupmu pada orang, apalagi menyalahkan orang sebagai faktor utamanya. Masalahmu adalah masalahmu. Hadapi itu, selesaikan sebagaimana kamu mampu. Tak usah mencari siapa yang perlu kamu salahkan, tapi berpikirlah apa yang dapat kamu perbaiki dari kesalahan tersebut.
Ingatlah, tiap orang punya masalah sendiri. Oleh karena kamu juga tak selalu ingin tahu masalah orang lain, apalagi ikut terbebani menyelesaikannya, begitu juga orang lain. Bersandarlah pada semua potensi yang Allah berikan padamu, bukan meletakkan selalu pada belas kasih orang lain. Wallahu'alam. (***)
Pandeglang, 3 Maret 2025 06.47

0 Komentar
Menyapa Penulis