Puasa Kesebelas Ramadan 2026: Serangan Amerika-Israel Mematikan Petinggi Iran

 

Potret Ayatullah Ali Khamenei. (Republika.id)

Kabar terbunuhnya pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Khomaini, jadi pembiacaraan panas masyarakat dunia. Setelah berkali-kali menyasar tokoh sentral negeri Persia ini, upaya itu menemukan hasilnya. Serangan yang amat terstruktur itu mengubur nama legendaris tersebut.

Kalau kita perhatikan, memang terjadi dualisme tanggapan: ada yang memang bersyukur dengan gugurnya pemimpin tinggi Iran tersebut; namun ada pula yang merasa terluka. Kematian beliau menjadi tanda-tanda bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja.

Apa yang dilakukan Trump dengan kebijakannya menjadi "ketakutan sendiri" terhadap negara-negara yang tidak lebih kuat dari Iran? Tidak lebih luas pula seperti Iran. Kita tentu masih ingat bagaimana Presiden Maduro "dijemput paksa" karena dituduh melakukan pelanggaran hukum.

Suara dunia kala itu menimbulkan ragam pandangan; ada yang membenarkan; ada pula yang amat mengecam sangat keras. Hal ini menjadi indikasi bahwa Amerika telah melakukan kesewenangan yang di luar batas. Tidak menghargai teritorial bangsa lain. Padahal tiap negara punya kemerdekaannya masing-masing.

Kematian petinggi militer dan petinggi negeri Iran terselip pesan: ada upaya masif untuk menghancurkan pemerintah legal dengan cara yang amat brutal. Hak dan hukum internasional luput direalisasikan. Perang jelas merugikan mereka yang lemah, karena mereka tidak tahu apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Ujungnya, nanti rakyat sendiri jadi korban. Entah berapa nyawa yang pulang dengan kematian. Mereka yang lemah dan papa itu harus jadi korban yang sukarela. Selain itu, yang tak kalah mengerikan adalah bakal lahirnya "kemungkinan" perang dunia yang sangat jauh mengarah.  (*)

Posting Komentar

0 Komentar