| ilustrasi yang tengah jualan angkringan/RRI |
Bisa salah tarawih di malam Ramadan, apalagi sampai tak pernah bolong itu nikmat. Berkah yang amat besar. Entah kenapa di sela rampung salat tarawih tadi aku berpikir begitu. Tentu saja setengah pikiran lain bertanya-tanya, kenapa begitu?
Setelah aku teliti dengan cermat, memang benar nikmat. Bukankah di luar sana ada banyak saudara kita yang kurang beruntung; mereka ingin pula tarawih berjama'ah. Namun, keadaan tak memungkinkan itu. Terkadang, mereka merasa pedih dan sedikit terluka. Kenapa aku tak bisa seperti mereka?
Perasaan ini makin terasa sesak karena begitu banyak saudara kita yang tidak punya kesibukan, tapi tak tergerak untuk tarawih. Mereka sibuk dengan aktivitas--kemalasan daripada terpanggil oleh panggilan di rumah ibadahnya. Meski suara azan begitu menggema tapi tak tergerak hati pun kakinya untuk melangkah menjemput kemenangan.
Mereka bertanya, andai waktu bisa ditukar, mereka ingin seperti mereka yang ridho menjemput kemanangan. Namun, keadaan terkadang terasa amat kejam. Kita bisa berharap terkadang takdir manusia berbeda-beda.
Di titik ini aku memahami: terkadang kita lupa bersyukur karena kita gagal melihat kenyataan sekitar kita. Bumi begitu luas. Begitu banyak kejadian terjadi di sekitar, kita luput menyaksikannya, bahkan memikirkannya. Kita terlalu berpikir tentang diri kita, menutup perenungan yang terjadi.
Kalau kita kembali pada surat yang pertama kali turun ke muka bumi, yakin surat Al-Alaq. Pesannya jelas. Baca. Baca ayat-ayat Allah yang terlihat, terbaca, dan tercermin di alam semesta. Baca untuk kita renungkan dan pikirkan betapa Maha Besar Allah dengan segala penciptaan-Nya. Begitu indah dengan segala lukisan-Nya.
Semoga dengan itu, iman kita makin kokoh. Keyakinan kita makin dalam. Dalam hidup terasa makin ringan. Bagaimanapun, segala waktu yang nikmati sekarang akan ada masanya dan akan diminta pertanggungjawaban: Untuk apa itu dilakukan dan ke mana kamu gunakan.
Sebelum waktu itu terjadi, mari kita perbaiki diri kita. Kita perbaiki ketaatan kita yang masih bolong. Nikmati semua yang kita miliki. Sebagaimana Ramadan disebut bulan kesabaran. Maka latih diri kita agar senantiasa sabar.
Ada pula yang menyebut bulan latihan. Mari latih diri kita agar senantiasa waras menyikapi keadaan. Ada pula menyebut bulan penuh rahmat, berkah dan magfirah-Nya. Apa pun itu penyebutannya, semoga kita bisa memaknainya dengan penuh kesadaran. Wallahu'alam. (**)
Pandeglang, 26 Februari 2026 22.05
0 Komentar
Menyapa Penulis