Tidak Semua Harus Sama

Ilustrasi seorang imam tengah memimpin jamaah di suatu masjid. (sumber: Detik.com)

 Orang itu mungkin lagi demen-demennya jadi imam. Perasaan aku, perhatikan, menunggu sekali momen untuk jadi imam salat. Pernah aku iseng setelah salat sunah rawatib karena gak ada imam. Aku diam saja dan pura-pura berdoa. Karena hanya aku dan orang itu, dia kok kayak menunggu-menunggu.

Ingin benar aku tertawa, tapi takut menyinggung. Aku pun iqomat. Peristiwa serupa sering banget terjadi, dan aku geleng-geleng saja. Mungkin baginya itu adalah kebahagiaan. Karena berbagi kebahagiaan adalah berpahala, aku berusaha mengikuti keinginannya.

Aku cuma heran dan semoga keheranan ini bisa kamu maklumi. Menjadi imam itu sebenarnya amanah dan tanggung jawab, bukan sekadar simbol kemuliaan. Ibarat sopir kendaraan, dia adalah orang yang menjamin hidup dan mati penumpangnya. Seharusnya hanya yang profesional di depan. Pada kesempatan tertentu ia harus mau berbagi dengan sopir lain, bukan karena dia tak mampu, melainkan untuk menjaga kemitraan agar lebih hangat.

Kalau aku mau, kenapa harus berbagi dengan orang lain? Mungkin begitu kira-kira ia berpikir. Aku jadi ingat ucapan anak sulungnya Cak Nun—pernah disitir pula oleh Cak Nun di bukunya—tiap orang berpikir dan bersikap sesuai kemampuannya. Kalau tukang bakso hanya berpikir bagaimana menjaga kualitas baksonya dan tak sempat memikirkan negara, itu bukan salahnya.

Sebab ia tak punya sumpah untuk memikirkan negara seperti para pejabat negara. Memang kita perlu mengawasi kebijakannya, tapi bukan berarti lupa tanggung jawab sendiri. Namun, berbicara sesuai kemampuan lebih baik. Begitu pula tukang bakso, tak boleh memaksakan pejabat negara untuk memikirkan bakso dan berpikir bagaimana meningkatkan kualitas rasa baksonya. Biarkan orang berpikir sesuai kapasitasnya.

Kalau orang itu terlalu ingin jadi imam, mungkin itu cita-cita yang terus ia asah dan latih. Ketika sekarang ada kesempatan, ia tak mau menyia-nyiakannya. Pokoknya, tancap gas terus. Tidak perlu pakai sen kanan-kiri. Maju terus.

Dalam konteks ini, jadi imam memang penting; tanpa mereka, syarat salat berjemaah bisa gagal. Akan tetapi, apa artinya seorang imam tanpa ada jamaah di belakangnya? Singkatnya, semua harus ada yang jadi imam dan harus ada jadi makmum. Keduanya harus memahami tugasnya. Kesempurnaan karena kerja sama, bukan saling unggul. Siapa ada di belakang, siap pula nanti ada di depan.

Any way, sebenarnya "orang itu" bisa kamu, aku, atau siapa saja. Orang itu tidak selalu benar seperti yang kamu kira dan pikirkan. Sejatinya, tiap orang selalu ingin unggul dan terkadang demi keunggulan itu menutup rapat kesempatan orang lain untuk tumbuh. 

Tulisan ini hendak mengingatkan penulisnya: bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki sekarang dan berpikir positif tentang apa yang kamu alami. Wallahualam. []

Pandeglang, 5 April 2026  21.05

Posting Komentar

0 Komentar