Puasa Ke-29 Ramadan 2026: Pesan di Balik Pendidikan Islam

Anak Lagi tantrum. (detik.com)

 

Sore tadi, ketika mengantar Emak belanja, aku melihat teman sekolah dulu. Jarak kami jauh, tapi amat jelas terlihat dia mengendarai motor bersama anak dan istrinya. Kabarnya sih dia sekarang jadi ustaz muda di kampungnya.

Melihat dia, aku terpaku. 

Sosok yang dulu amat ceria dan tangkas kini jadi panutan pun lebih kalem dari biasa. Ilmu membuat dirinya lebih wibawa. Tatapannya pun lebih lembut. Aku memang tidak menyapanya karena jarak cukup jauh dan keadaan kurang memungkinkan kami saling sapa.

Kita akan dewasa di masa yang tepat. Seperti apa pun masa muda kita, seperti apa pun masa kecil kita. Ada satu keadaan yang mengharuskan kita bersikap benar, cepat dan terukur. Saat itu kita dituntut untuk bijak, mengesampingkan sikap kekanak-kanakan.

Itulah kenapa dalam pendidikan Islam kita mengenal bahwa di usia 10 tahun Nabi mengajarkan anak tidak hanya disuruh untuk salat, tapi harus diberi punishment dengan "memukulnya". 

Memukul di sini pun harus dipahami bukan untuk menyakiti atau melukai tubuh anak. Pukulan lebih kepada penegasan kepada anak bahwa perintah itu serius. Itulah kenapa di usia balig, tugas orang tua kembali pada "mengingatkan" bukan "memaksakan" kehendak lagi.

Di sini kita bisa memahami bahwa ajaran Islam memang manusiawi dan mapan. Nilai demokrasi lebih dulu dipraktikkan dalam lingkup keluarga agar kelak di masa yang lain bisa survive dalam kenyataan. Agar kelak dewasa, bagaimanapun problema yang ia hadapi, jangan sampai tumbang. Sebab ia punya keyakinan untuk tetap wajar melihat setiap ujian berat.

Relevansi dengan cerita teman di atas, yakni pertumbuhan mental itu penting. Semua perlu dilatih agar stabil. Tidak mudah memang. Setidaknya ada gambaran untuk masa depan yang tidak lagi cengeng. Wallahui'alam. (**)

Pandeglang, 19/03/2026   22.43


Posting Komentar

0 Komentar