![]() |
| sumber: Laduni Vs Oenngeseaan |
Makin ke sini, kadang saya heran: mereka menjadikan "status sosial" sebagai ladang persaingan. Menjadi tokoh agama seolah-olah menjadi penguasa dalam satu bidang akhirnya menghilangkan keramahan dalam sikap.
Padahal tiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Padahal tiap zaman butuh regenerasi. Kalau semua merasa mampu dipikulnya, akhirnya nilai persatuan adalah utopia belaka.
Kemarin malam seorang sepuh bilang ke saya, mengurus masyarakat itu tidak mudah. Adalah selalu ada orang-orang yang punya kepentingan. Ya saja kalau kepentingan untuk semua orang, masalahnya itu hanya untuk dirinya. Di sinilah katanya perlunya di-cut agar tidak semakin meluas.
Itu katanya hanya karena merasa sepele, yakni merasa tersaingi. Persaingan di dunia ini kan nyata, kalau tidak sekarang, mungkin nanti. Kalau tidak, saya dan kamu, mungkin mereka. Akan selalu ada yang "lebih tahu" dan ada yang "merasa tahu". Bersikap "merasa tahu" agar terlihat lebih alim.
Akhirnya, yang begini jadi bomerang dalam kehidupan bermasyarakat. Kita sibuk mencari laron di luar kapal layar kita. Ternyata dia ada di tengah kita yang sedikit nan pasti menggerogoti kebersamaan kita.
Untuk itu, saya setuju. Introspeksi itu perlu dilakukan oleh tiap kita. Sibuk kita itu menggali potensi kita dan berusaha mempraktikkannya dalam kenyataan. Tidak sekadar praktik.
Fokus kita bukan pada kekurangan moral orang. Fokus kita bagaimana melatih diri kita agar bersikap selayaknya pribadi normal di sekitar kita.

0 Komentar
Menyapa Penulis