| Illustrasi diambil dari kanal Youtube. |
Kalau harus jujur, saya yakin tiap kita ingin meluapkan masalah masing-masing. Ada gumpalan masalah yang menggantung di hati dan pikiran kita. Rasanya, tiap hari ada saja masalah yang datang. Selesai satu, datang yang baru. Kita ingin mengutarakan itu agar orang lain tahu bahwa kita punya masalah. Walaupun ada masalah , siapa yang mau mendengarkan masalah kita?
Mungkin bagimu itu penting dan memang layak diutarakan? Tapi bagi orang lain? Belum tentu. Kamu mengeluh lagi pusing, lagi punya banyak tagihan, lagi punya beban kerja, lagi pusing memikirkan keinginan di hati, atau lagi memikirkan nasib hubungan kamu yang penuh dengan kerikil tajam nan menyebalkan.
Bagimu itu penting, tapi tidak untuk orang lain.
Terus, siapa yang mau memahami masalah kita? Teman kah? Sahabat kah? Orang tua kah? Netijen kah? Atau para psikolog yang memang kerjanya mendengarkan curhatan jiwa yang memang bermasalah secara medis? Atau kepada tokoh agama yang kita yakini dekat dengan Sang Maha Kuasa?
Sepertinya jawaban itu akan subjektif. Kita punya preferensi jawaban yang cukup kita harapkan. Oleh karena itu, jawaban itu biarlah kita simpan dan terus menggantung di nalar keabu-abuan. Biarlah kita yang tahu dan tidak usah kita utarakan. Cukup kita yang tahu dan merasa saja.
Kalau kita buka dan menonton kajian seputar kejiwaan oleh pakar kejiwaan (baca: psikolog), mereka melihat manusia modern ini rawan sekali terkena penyakit mental. Maksud penyakit itu tidak selalu negatif loh, ya.
Kita itu sudah terlanjur setuju bahwa penyakit mental itu gila atau ODGJ. Akhirnya, ketika ada orang yang punya kecenderungan bermasalah secara mental, lantas datang ke pakarnya, dicurigai sebagai orang gila. Tentu saja ia malu, padahal gejalanya ringan dan bisa sembuh. Namun, malu karena stigma, akhirnya memilih berhenti dari pengobatan. Akhirnya, lama-lama terdistorsi depresi. Arah ke mental chaos pun rentan terjadi.
Ironisnya, manusia modern yang dikatakan rentan itu adalah orang-orang di usia produktif. Kasus yang terjadi karena tak mampu mengelola emosi atau karena problem hubungan dengan orang terdekatnya. Dari cemas yang biasa, meningkat ke darurat sampai ke depresi akut. Silakan baca dan scroll datanya sendiri.
Terus, ke mana harus kita curhat?
Jawaban garing-nya sih, datang ke acara Mamah Dedeh. Di sana bisa curhat sepuasnya. Eh, sepuasnya? Gak juga deh, kan terbatas durasi waktu. Itu pun kalau kebagian jatah untuk bicara, kalau engga, ya gak bisa, singkatnya, tetap ga efektif.
Menjadi manusia modern itu ternyata tidak selalu mengenakan. Dulu orang sering bilang di masa modern segala masalah bisa diatasi oleh teknologi. Ilmu pengetahuan akan menuntun kita ke abad kejayaan. Hari ini kita bisa merasakannya. Benar ada yang bisa diselesaikan, tapi lebih banyak menggantung jadi objek tanya dan penelitian bagi mereka yang senang mengkajinya.
AI katanya bisa jadi "sahabat curhat" yang tahu banyak hal. Ya memang, tapi dia tidak memiliki empati seperti manusia. Dia bicara itu sebagaimana algoritma, bukan orisinal gagasannya sendiri. Bisa juga benar dan bisa juga ngawur. Namanya juga robit, masa kita ditentukan nasib oleh produk tangan manusia yang pastinya punya banyak kekurangan.
Di fase ini, kita percaya bahwa Allah adalah jawaban terbaik. Kita yakin Allah memberikan time-time kita untuk curhat. Misalnya, seharus wajib salat 5 waktu bagi mereka yang tidak ada halangan secara agama. Ini kan kalau kita menerjemahkan secara psikologis bisa bermakna Allah tahu masalah kita dan menunggu kita untuk curhat.
Orang bilang malam terakhir adalah waktu yang sangat baik untuk curhat. Mengungkapkan segala keluh dan beban hati. Ya, benar. Tapi untuk mereka yang secara istimewa sudah mapan secara ketaatan. Sedangkan bagi kita yang repot dengan urusan dunia dan mau salat tepat waktu saja, repot karena bentrok dengan kesibukan tentu agak sulit.
Artinya di sini Allah memberi begitu banyak ruang untuk curhat. Kamu bisa curhat lima kali sehari. Kalau masih kurang, bisa ditambah di salat duha, rawatib, hajat dan sebagainya. Itu bisa dilakukan di waktu yang bebas, selama memang agama tidak melarangnya secara qot'i.
Allah tahu kita punya banyak masalah. Allah tahu kita rapuh. Allah tahu kita mudah galau. Kita diam-diam datang dengan tadarru' untuk menghamba dengan segenap kesadaran diri. Itu harus mampu dan menyempatkan waktunya.
Bayangkan saja, setiap subuh kita curhat kepada Allah. Terus di waktu duha curhat. Terus di waktu dzuhur curhat pula. Di waktu asar pun magrib sampai isya tidak terlewatkan. Di momen sebelum tidur, kita menyempatkan curhat setelah salat hajat atau sejenisnya.
Apa mungkin kita stres?
Kecil banget secara logika kita depresi, ya. Sebanyak apa pun masalah kita, kalau itu sering kita ungkapkan. Mungkin kamu ingat, di ayat suci ada ayat yang artinya memintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat.
Ayat ini jadi semangat Muslim, jadi tujuan hanya Allah yang tahu masalah kita dan mampu memberi solusi dengan caranya yang indah. Banyak riwayat sampai ke kita. Nabi itu kalau punya masalah, maka beliau salat. Sahabat pun begitu. Baik, masalah itu besar dan ringan. Salat jadi solusi-nya.
Tentu saja, panjang penjelasan "salat jadi solusi-nya". Mungkin di lain kesempatan saya bisa memaparkannya. Anggap saja ini demi menjawab sebagian pihak yang kurang adab bilang: punya masalah datang ke Allah, harus salat, harus sabar dan bla-bla. Apa-apa ke Allah, makanya Muslim tertinggal secara peradaban, katanya.
Kalau boleh saya menyimpulkan, orang tersebut kurang menghayati inti ajaran Islam sendiri. Kita itu hamba, maka selayaknya tahu posisi kita.
Intinya sederhana, agar kita memahami posisi kita sebagai hamba dan Allah sebagai Tuhan semesta raya. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Nanti Allah memberikan ilham jalan terbaik kepada kita. Begitu loh, jangan disalahpahami secara negatif. Wallahu'alam. (***)
Pandeglang, 9 Mei 2026 22.56
0 Komentar
Menyapa Penulis