| Gambar sekadar ilustrasi belaka. (dokpri) |
Kamu tahu, aku pernah sedih mendengar kabar perceraian. Itu dari dua pasangan, di mata aku, romantis dan islami. Pokoknya meneduhkan. Hampir semua yang melihatnya pasti terpukau. Itu pasangan ideal.
Bagaimana tidak, perempuannya bercadar, anak-anaknya islami, dan suaminya, selain pedagang, juga aktif di komunitas dakwah. Bisa dikatakan tiap hari aku bertemu saat salat bersama. Lebih lengkap karena ada anak-anaknya yang sedang menghafal Al-Qur'an. Si sulung sebentar lagi akan khatam, ia belajar di Malaysia.
Semua jadi duarrr! Karena tiba-tiba terdengar kabar perceraian. Aku berpikir kenapa terjadi perpisahan kalau selama ini terlihat baik-baik saja. Terlihat tak ada apa-apa. Namun, takdir sudah terjadi. Nasi sudah jadi, Bu Iur. Bubur sudah terjual habis. Kini, hanya terikat dan menggantung.
Lantas, seperti apa kisah kita yang berakhir membeku?
Sebenarnya, aku takut jauh darimu. Cemas terjeda di antara kita. Aku tak mau ada kata pisah, apalagi pergi. Tak ingin kutemukan kosakata yang membuat deg-degan. Tapi aku harus belajar untuk memahami bahwa sesuatu itu berpasang-pasangan.
Saat aku siap menerimamu, saat kamu pergi, aku pun siap. Seperti itu pula kamu, siap menerima aku datang, saat aku pergi, harus pula menyiapkan segala. Memberi perhatian untuk menata hati dan menyiapkan tekad agar lebih terjaga lagi.
Bukan seperti dulu lagi. Tapi seperti yang sudah kita jalani, ke depan lebih baik lagi. Jangan lihat ke belakang: apa yang sudah dijalani sebagai luka dan akhir semuanya. Belajarlah untuk memaknai semua awal, atau setidaknya terminal untuk kita sejenak istirahat.
Jangan tanya apa rasanya masih ada. Jangan tanya pula apakah semuanya masih sama seperti hari kemarin. Kamu tahu, rasaku akan tetap hangat untukmu. Rinduku akan tetap manis dengan semua tawa dan senyum kita. Tapi kamu tahu pula, bertahan itu tidak selalu mudah.
Dengan semua dinamika di antara kita, aku yang merasa tanpa harapan. Menunggu menjadi kata yang menyesakkan dada. Aku masih harus berjuang dan mengejar cita-cita yang terpendam. Itu memerlukan waktu yang mungkin akan makin melemahkan asamu. Menunggu bagi kamu itu segenggam sesal dan kata-kata tanpa menyesakkan dada.
Kamu perempuan yang baik dan hidup di lingkungan yang melihat perempuan menunggu kekasihnya itu jadi bahan sindiran. Kata-kata yang kadang melukaimu; kata yang kadang membuatmu tersungkur; kata yang memang sering membuatmu diam-diam menahan pedih yang dalam.
Aku tidak ingin semua terjadi lagi. Tidak ingin pada akhirnya aku sibuk dengan semua yang ingin aku kejar dan di saat yang sama meluaskan jiwamu untuk terus diejek. Oh, tidak, jangan Tuhan! Aku akhirnya menerima keputusan kamu. Bukan, bukan tak ingin dan tak lagi ada rasa itu. Bukan, sama sekali.
Lebih kepada aku harus meredam egoisme jiwaku. Aku yang harus menerima dan membiarkan kamu pergi. Kamu kembali pada langkah awalmu. Langkah yang tak ada aku di sana. Tak ada hari yang membuatmu berwarna. Tapi aku yakin kamu akan baik-baik saja.
Tidak ada yang harus disalahkan dan dicari-cari setelahnya bagaimana. Karena kita tahu, selama mentari esok masih bersahabat, kita harus terjaga melangkah menuju takdir kita masing-masing. Semoga tetap baik dan sehat di sana, ya. (**)
Pandeglang, 6 Mei 2026 21.27
0 Komentar
Menyapa Penulis