Dalam aktivitas harian kita sering bertemu dengan ragam orang dan sikap mereka terhadap kita. Ada yang menyapa rumah, ada yang tak peduli dan ada pula yang memang menarik untuk terus menyudutkan kita. Entah yang mana banyak kita temui dalam keseharian. Pastinya menjengkelkan dan mungkin biasa saja, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Hal ini menarik karena kita suka menyimpulkan apa yang kita lihat tanpa mau menganalisis dengan jalur realistis. Misalnya, ketika kamu diberi wajah yang asem oleh orang yang kamu temui, mungkin kamu berpikir orang itu lagi tak suka denganmu. Kamu benarkan itu karena raut wajahnya memang begitu.
Padahal itu tidak selalu begitu. Bisa saja wajahnya asem itu bukan karena asem kamu, tapi, dia lagi memendam rasa kesal ke anaknya, suaminya, atau mungkin ada hal yang membuat pikirannya pening. Kebetulan kamu melihat cara refleks yang dia tunjukkan padamu. Kamu pun merasa dia pada hal gak bermaksud apa-apa. Kamu pun menyimpulkan bahwa jadinya bermasalah.
Itulah kenapa dalam kajian psikologis hari ini populer istilah mental health. Kesehatan jiwa perlu diperbaiki atau diobati agar kembali normal. Kalau orang sakit fisiknya itu kan enak bisa terlihat dan terasa. Tapi penyakit mental, siap yang tahu kecuali orang yang bersangkutan menyadarinya dan mau mengobati pada ahlinya.
Ahli itu yang akan menuntun orang bersangkutan. Kalau tetap diam, ya sudah tak da ceritanya yang bsia diperbaiki. Dia merasa sehat pada hari ini; kiwanya yang rapuh hampir selalu terabawa oleh angin yang berhembus. Akhirnya tak punya kepribadian. Bukan karena tubuhnya rapuh, tapi karena tidak mau berusaha membangunkan kerapuhan itu agar kuat.
Kalau melihat orang yang raut wajahnya gak enak, kenapa kita tidak berusaha menyikapinya atau menilai itu dari sisi lain yang tidak melulu negatif. Misalnya, kamu ketika bertemu orang menyapa dan memberi raut yang ramah, tapi kok sikap yang bersangkutan dingin dan seolah tidak mendengar sapaan kamu. Kalau kamu bersikap seperti kebanyakan orang, maka sikapmu akan jenkel. Bisa juga membelanjanya dengan kontan.
Tidak untuk orang yang mau berpikir bijak. Ia akan berusaha meniru orang yang lebih mulia darinya. Misalnya para nabi, para sahabat, atau para ulama. Dalam pandangan lebih luas, tentu saja kata-kata orang arif bijaksana.
Kita akan membaca perilaku mereka ketika menghadapi apa yang kita alami, apa yang bisa dan mampu mereka lakukan. Apa seperti kita yang terus tancap gas dan meminggirkan efek samping yang bakal ia hirup. Atau seperti orang mulia di atas itu, yakni dengan tabah dan ridha.
Apa sih maksudnya?
Maksudnya ialah kita sering ribut dengan pandangan kita terhadap orang lain justeri bukan karena orang lain tapi kita gagal mengolah emosi sendiri. (**)

0 Komentar
Menyapa Penulis