![]() |
| Foto kenangan kakek dengan nenek dan adik penulis. (dokpri) |
Kakek saya sering banget bercerita tentang bacaan kiai-kiai besar pada masa mudanya. Ada yang bertemu dengan beliau atau hanya diceritakan oleh gurunya. Misalnya begini, beliau pernah diajak oleh gurunya untuk silaturahmi ke kiai besar di Banten.
Di sana datang malam dan masuk waktu salat. Singkat cerita, kiai tersebut menjadi imamnya. Saat membaca ayat suci pada dua rakaat awal itu, beliau terpesona dengan bacaannya. Bacaan yang mendayu dan menyentuh.
Sampai selesai salat, guru beliau bertanya, "Mad, maneh mah te maca fatihah nya?"
"Muhun Mama," kata kakek, "terus, kumaha eta hukum na?"
"Te nanaon. Sah pokok na," ujar gurunya dengan senyum.
Gurunya tentu tahu dan bisa menebak; memang benar adanya kakek tak membaca Fatihah saking menikmatinya bacaan si imam. Itulah kenapa, untuk soal makhroj huruf kakek memang "agak keras" mengajar kami cucunya. Bagaimana agar sesuai aturan, baik tajwid maupun aturan yang sesuai kaidah keilmuan.
Di antara guru ngaji saya, kakek adalah orang yang paling lama. Tentu, sebelum ke kakek, saya diajari Bapak terus ke Abah Jufri, terus ke kakek. Sisanya ikutan nyorog dan bandongan kitab di kampung sendiri. Gak lama dan tidak intens pula.
Namun, di dua guru terakhir ini saya juga sedikit diajari BTQ (baca: baca tulis Al-Qur'an). Singkatnya, bisa dikatakan bahwa membaca kalam suci itu tidak asal-asal. Ada sanad keguruan juga arah dari beliau.
Saya suka heran dengan ucapan sedikit orang yang bilang: dia ngaji di mana kok bisa mengajari anak-anak? Mondok juga gak. Kok bisa begitu? Kalau tak berguru, apalagi berguru dari buku maka gurunya setan!
Ngeri banget saya dengarnya. Itu ada yang terbuka disampaikan ke saya atau lewat orang dekat saya. Sungguh, tidak habis pikir. Apa artinya tiap malam ba'da magrib—di masa-masa itu—mengaji sampai menjelang isya? Jujur saja, secara pribadi, saya lebih senang diuji kemampuan bacaan saya apakah memang sesuai kaidah hukum atau jauh dari pakem keilmuan Islam.
Begini lebih baik dan jelas, bagus untuk saya dan jelas bagi mereka yang meragukan kemampuan saya. Daripada cuap-cuap di belakang lantas disimpulkan sebagaimana "yang dia lihat" bukan apa yang sebenarnya terkonfirmasi ke diri saya.
Terus, bagaimana saya menyikapinya?
Dulu sih paranoid. Sempat gusar juga. Wajar ya, namanya saya manusia. Tapi makin berjalannya waktu, saya belajar dari orang-orang mulia lampau yang bijak.
"Kalau kamu dianggap sebelah mata dan tak dihargai hadirnya. Bukan marah dan caci maki yang kamu harus lakukan. Bukan pula harus putus harapan dan terpuruk. Percayalah, itu hanya buatmu jatuh. Bangkit dan buktikan kamu pantas untuk dihormati."
Lewat sebaris kalimat itu saya menyadari, semangat belajar itu tak boleh kendur. Lakukan dan cari apa yang kamu bisa. Kejar apa yang dapat kamu usahakan. Orang lain mungkin lebih sukses darimu, namun kamu juga bisa lebih bermanfaat bagi mereka, kok.
Di titik inilah saya menikmati hidup. Hidup saya sederhana. Pengalaman saya pun amat sedikit. Namun, dari situ, saya berdamai dengan diri saya dan berusaha terus menggali potensi dalam diri saya. Terma syak dalam bacaan ayat suci ini.
"Dengarkan gih bacaan imam salat di Masjid Keraton Banten. Masya Allah, pada bagus," kata kakek.
Di lain kesempatan, beliau sering berujar, "Ngaji itu asal bacaannya sesuai aturan, insya Allah suara mengikuti bagus sendiri."
Ini dibenarkan oleh Ustaz Adi Hidayat di salah satu kajiannya. Katanya, tiap orang punya ciri khas suara dalam bacaannya. Baca saja sebagaimana aturannya. Jangan meniru ini, meniru orang ini. Akhirnya apa? Tidak punya ciri khas. Sebenarnya sederhana soalnya, tidak percaya diri.
Oleh karenanya, tiap kakek bilang ke saya, "Kenapa tidak dilagukan? Bacaannya seperti di musabaqoh? Saya selalu menjawab, saya tidak nyaman. Sederhana alasannya karena suara saya pas-pas-an.

0 Komentar
Menyapa Penulis