| Jangan-jangan amal kita sudah robek, tapi kita tak sadar. (pixabay.com) |
Di kitab Syaikh Muhammad Al-Kandalawi, Kitab Fadhail Amal-nya, ada cerita yang cukup menyentuh, yakni tentang seorang imam salat yang sesudah salat meminta maaf kepada jamaahnya. Kenapa? Karena sewaktu salat ia merasa paling tahu. Ia takut "merasa" itu bisa mengurangi pahala salatnya. Oleh karenanya, saking beradabnya ahli ilmu itu, mereka selalu rendah diri dan merasa hina di mata orang lain.
Ini pelajaran buat kita, yakni ketaatan itu bukan ajang kebanggaan. Kebaikan yang kamu lakukan bukan alat untuk orang tahu kamu memang ahli kebaikan. Lantas, ketika ada orang yang memanggil kamu orang yang tidak baik, karena memang akhlak kamu belum baik di matanya. Tak usah membuatmu cemas setengah mati. Apalagi balik mencaci atau membencinya.
Apa yang salah? Tidak ada. Dia melihat apa yang dia lihat dan saksikan. Bisa salah pun bisa benar tergantung kamu melihatnya dari sisi mana. Mungkin saja ucapannya benar walau pun kamu tidak enak rasanya. Kamu ingin marah dan bertindak kepadanya. Eh, aku tidak seburuk itu. Yap, percuma, apa dia peduli?
Mungkin ada baiknya kamu menerima dan introspeksi diri: apakah aku memang belum sebaik itu? Ya, aku sudah rajin melakukan kewajiban dan menaati semua perintah Allah semaunya aku, tapi Allah menerima amal itu?
Ya, aku memang salat, memang puasa, tiap hari tak tertinggal. Tapi apa amal itu murni karena taat kepadanya, atau ada kepentingan lain? Terus, apakah itu murni ikhlas? Tidak punya embel-embel lainnya. Tidak ada yang tahu.
Jangan bakar amalmu dengan memberitahukan kepada orang lain. Padahal orang itu bertanya tidak, tahu juga tidak. Mungkin tertarik juga. Tapi kamu emang beritahu agar ia tahu kamu punya amal ini. Punya amal itu. Aku rajin puasa, aku rajin salat dan bla-bla.
Jangan ingin dihargai; terkadang itu hanya melukai diri. Jangan ingin dipuji; terkadang itu hanya untuk menutupi isi hatinya, sekadar agar kamu besar diri. Setan selalu punya sejuta cara agar amalmu itu jadi abu. Mungkin kamu merasa aku masih menyalahi rencananya. Kok berbuat kebaikan dan ketaatan. Tapi bagaimana kualitasnya? Apakah buku itu diterima? Tak ada yang tahu.
Berhati-hatilah beramal dan menjaga amal itu agar berada di jalur yang benar. Amal itu harus membuat kamu jadi pribadi yang lebih baik. Kamu rajin menjaga marwah dirimu. Jaga auratmu. Jaga ucapanmu. Jaga sikapnya. Jadi, pribadi yang kamu nyaman dan orang lain merasa aman dekat kamu. Setidaknya, itu yang kamu bisa lakukan.
Kalau kamu sudah berusaha melakukan apa yang menurut kamu baik dan memang benar secara agama. Kalau tak ada yang melirik kamu, maka terima saja. Toh, amalmu bukan untuk mereka. Amalmu untuk kamu tabung di alam mashar. Hari ini kamu merenah memupuk jiwamu sebagai orang kaya di alam abadi sana. Hari ini jadi pribadi yang menjaga ketaatan dengan sadar dan tulus.
Jangan sibuk membatasi diri dengan anek sebutan yang baik agar orang tahu kamu orang baik. Kamu orang taat. Untuk apa? Sesuatu yang dipaksakan dan ditinggalkan dan sering kali menipu dan menjerumuskan ke dalam jiwa yang resah sunyi, minda tak berharga. (**_**)
Pandeglang, 10 Maret 2026 23.17
0 Komentar
Menyapa Penulis