Untuk Memberi Bahagia Hati Orangtuamu, Jangan Menunggu Kaya Apalagi Ia Meninggal

Seorang anak yang dipenjara demi menjaga kehormatan ibunya. 

Aku tidak akan menasihatimu tentang adab dan akhlak yang baik pada ibumu, pada ayahmu, dua manusia spesial dalam hidupmu. Aku tahu kamu lebih tahu dariku soal itu. Kamu hafal begitu banyak kalam-kalam yang menjadi basis dirimu sehingga amat tahu: mana sikap yang bakal merobek jiwa orangtuamu dan mana yang memberi senyum cerah kepada keduanya.

Terkadang justru rasa tahu itu jadi boomerang untuk kita bersikap tak acuh kepada keduanya. Misalnya, kamu tahu surga ada di telapak kaki ibumu. Temtu itu bukan sekadar kata tanpa makna. Bukan pula slogan tahunan yang kerap digaungkan di Hari Ibu dan Hari Bapak. Jauh dari itu, itu sabda Nabi yang mustahil berdusta atas kata-katanya.

Kamu tahu, hari ini kita sering mendengar anak-anak menyebut orangtuanya "anjing, babi, bangsat, tolol" dan sebagainya. Mirisnya, itu ditertawakan orang tuanya atau orang sekitarnya. Seolah itu lucu saja. Ketika itu jadi kebiasaan sampai besar, baru terasa bahwa kata ternyata tidak sekadar kata yang membuat tertawa lagi. Itu punya muatan menyakitkan di jiwa.

Itu kenapa?

Karena kita ingin merasa bebas dan merdeka dari fanatisme, dogma, dan adat. Kita ingin bebas, dengan begitu kita merasa menjadi makhluk modern yang seutuhnya. 

Bukankah kita sering melihat anak yang menggertak ibunya? Anak yang mencibir ayahnya tanpa ampun pun banyak. Alasannya sederhana: orangtuanya menyebalkan.

Tak peduli, ibunya berurai air mata yang amat menyesakkan jiwa. Tak peduli mata ayahmu berkaca-kaca untuk menjaga jiwamu yang tak terlihat rapuh.

Kamu lihat tak peduli, bukan? Karena yang salah ibumu, yang menyebalkan mereka, dan yang tak memahamimu mereka.

Kamu lupa bagaimana dulu kamu lahir? Bagaimana kamu yang sangat merah dijaganya dengan penuh cinta. Jangankan oleh tangan manusia, dari tangan nyamuk kecil yang tak berotot itu pun mati-matian dijaga agar tak menyedot darahmu dengan amat bebas. 

Panjang sekali ceritanya kalau kamu tahu perjuangan mereka, apalagi sampai sekarang, di mana kamu sudah besar lagi dan mandiri.

Jangan berpikir bahwa kamu yang kaya dan punya segalanya bisa memberi mereka bagian. 

Kamu begitu serius mengejar mimimu untuk sukses, semata-mata untuk mereka bahagia. Tapi ada yang kamu lupa: kamu menunggu taat, tapi tiap hari sikapmu hanya memberi mereka luka dan pisau yang menyayat jiwanya.

Ya, benar, mungkin nanti membawa kamu ke bahagia dan memang kamu akan memberi mereka senyum ceria atas semua kebahagiaanmu. 

Kamu yang selalu luput dari pikiranmu, terus bagaimana tiap luka dan perih yang mereka rasakan karena sikapmu yang selalu mereka sembunyikan agar kamu tidak menyadari dan seolah-olah itu baik-baik saja.

Jangan begitu. 

Kesempatan hidup di dunia ini cuma sekali. Di alam abadi sana, semua akan terlihat mana yang tulus kamu lakukan untuknya atau justru semua yang kamu lakukan hanya kepraktisan tanpa daripadanya. 

Akhirnya apa? Semua sia-sia tak punya nilai sedikit pun dalam amal baktimu di dunia.

Berpikir dan merenunglah senjak. Di luar sana begitu banyak mereka yang ingin punya rantau sepertimu. Merek terlahir di dunia tanpa ayah dan ibu. 

Mereka tinggal di panti asuhan atau di asuhan orang yang tak mengenal mereka, namun terpaksa harus dipanggil ayah dan ibu. Semata-mata agar masa depan mereka tetap ada yang memberi mereka kedamaian. 

Bayangkan kalau kamu ada di posisi mereka. Ketika kasih ibumu hanyalah imajinasi. Ketika bijaksananya ayahmu hanya hayalan semata.

 Mereka ingin nasi ganti lembut ibunya. Mereka ingin bercanda dengan ayahnya. Tapi mereka tak punya siap-siapa; mereka lahir karena tak diinginkan keduanya atau memang takdir punya rahasia tersendiri.

Demi hobi dan kecintaanmu, berapa saja kamu rela mengeluarkan? Namu, kenapa ibumu dan ayahmu masih harus kamu hitung-hitung? Kenapa kamu banding-banding seolah uangmu itu seperti miliar yang bisa menjamin masa depan mereka? Kamu memberi karena mereka meminta, atau kamu memberi karena terpaksa saja, bukan karena memahami mereka.

Ya, kamu selalu punya alasan. Entah lagi krisis, entah lagi sepi job, entah banyak kebutuhan dan alasan-alasan klise yang sukar dipahami. Bahkan, saat orangtuamu meminta waktu untuk didengarkan keihan hatinya, cuhatan jiwanya atau kepiluan yang mereka rasakan.

Kamu tak bergeming. Bagimu itu biasa dan membuang waktu sibukmu. Lantas, untuk orang yang kamu kasihi, sampai larut pun kamu sisakan waktu untuk mendengarkan. Ya kamu, dangkal memahami dan memaknai ketaatan pada orangtuamu. Seolah uang sudah menjadi jaminan, seolah bersama hanya rutin tahunan belaka, tapi kamu tak mau tahu apa yang mereka pikirkan selama ini.

Kamu takut kehilangan mereka di dunia ini. Sikapmu anehnya tak menunjukkan kebenaran itu. Kamu sibuk dengan dirimu. Kamu sibuk dengan duniamu atau teman-temanmu. Dulu keduanya selalu ada untukmu. Itu di usiamu belum mapan. 

Sekarang kamu tidak begitu. Padahal mendahulukan orang yang lebih tua itu penting. Jangan ambil pusing karena kamu belum sukses, karena setidaknya kamu berusaha menjadi manusia yang baik. Bukan manusia yang tak memahami ajaran, lantas sekadar cari sensasi belaka.[]

Pandeglang, 00.12  20/52026

Posting Komentar

0 Komentar