| sumber: wikihow.com |
Sebagai orang yang gemar menulis, saya tahu segmentasi tulisan saya, ke mana dia singgah, dan kalangan seperti apa yang membacanya. Karena tahu itu, saya tidak punya hal muluk dalam berkarya.
Menulis ya, menulis saja. Tidak berharap yang macam-macam. Bagi saya, sudah ada pembaca saja sudah bagus. Adapun itu tidak berpengaruh terhadap income. Biarlah itu jadi soal lain.
Karena itu, saya mensyukurinya. Menulis itu anugerah dan berkah. Dengan menulis, saya merasa hidup. Merasa dunia ini begitu luas, begitu agung, tentu tahu lebih agung lagi pencipta-Nya. Saya melihat dari sudut pandang yang kadang di mata orang negatif, tapi saya melihatnya biasa saja.
Kadang orang melihatnya positif; saya pun berpikir begitu; kadang tidak juga begitu sih. Ya, gimana maunya saja. Saya tidak takut berbeda dengan yang selama itu tidak keluar dari pakem kesopanan atau kebenaran.
Selama itu diyakini baik, saya berusaha memperjuangkannya. Masalah pastinya, tentu saja lihat nanti aksinya.
Kalau ngomongin masalah, hidup di dunia mah memang tidak lepas dari masalah kok. Masalahnya bukan pada masalah itu, tapi pada bagaimana kita berusaha menyikapinya dengan cerdas.
Di mana-mana masalah itu sama saja. Cuma berbeda cara kita melihat dan menghadapinya. Poinnya sih begitu.
Kayak orang yang baru putus cinta. Sebagian orang memilih untuk terus menangis, bobok di kamarnya, atau menyalahkan orang yang dia sayang, karena di matanya tidak punya tekad kuat, atau justru menyalahkan dirinya yang memang lemah dalam urusan ketegaran. Di mata kita, putus cinta selalu dipandang negatif.
Tapi kalau kita gunakan kacamata hikmah atau tidaknya itu urusan, maka bisa saja putus cinta itu memang positif. Dengan putus cinta, keduanya bisa berpikir lebih fokus, berperilaku lebih leluasa atau berlatih untuk mandiri.
Dulu sangat terikat macam lem dan kertas; sekarang dituntut untuk berkisah biasa. Itu butuh usaha. Usaha itu membentuk kualitas diri kita. Akankah menyakiti orang lain atau menyakiti diri sendiri? Atau memilih tidak menyalahkankan siapa-siapa.
Sebab tidak ada orang yang ingin disalahkan. Semua orang ingin dilihat baik, bagus dan sempurna.
Kita tidak peduli bahwa kualitas orang itu tidak melulu begitu. Nabi sudah lebih dulu mengabarkan kepada kita. Manusia itu tidak lepas dari salah dan khilaf. Singkatnya, ketidaksampurnaan itu fitrah.
Kita kembali ke soal menulis itu. Perspektif kita ditentukan oleh usaha kita dalam mengelola jiwa kita. Orang yang suka menulis bukan berarti mereka yang pintar.
Karena mereka menulis aktif, kita bisa tahu banyak hal. Tidak juga, penulis manusia biasa yang bergantung pada isi perut agar terhindar dari rasa lapar. Artinya, ketika kamu melihat dia sempurna, bisa saja itu lagi benar saja. Kalau lagi gak normal ya, itulah sisi kemanusiaannya
Tentu saja bukan untuk dicaci, apalagi dicuci, rasa kemanusiaan itu. Kan wajar, manusia bersikap biasa; yang tak wajar, dia bersikap kebinatangan; ini buaya. Sudah tahu manusia kok berisik, Buaya? Sepertinya ada yang salah dengan nalarnya, bukan? (***)
Pandeglang, 15 Mei 2026 21.16
0 Komentar
Menyapa Penulis