Harga Plastik Naik


ilustrasi jenis barang berbahan plastik sedang meroket. (Sumber: pixabay.com)
 

"Maaf ya, a," kata pelayan perempuan di toko kosmetik yang sering aku belanja di sana, "belanjanya gak dikasih plastik." Maksudnya belanjaan gak dibungkus. 

"Kenapa?" tanyaku heran. 

"Harga plastik lagi mahal," jawabnya.

Aku tersenyum mendengarnya. Seberapa mahal sih sampai segitunya? Aku belanjalah, itu kataku. Lagian belanja juga gak sedikit lebih dari seratus ribu pula. Masa gak dikasih bungkus plastik? Di kardus saja katanya. Tambah buat aku greget sekaligus heran.

Aku tahu kok harga plastik dan berapa modalnya, lagian di rumah jualan juga, masa iya harus gak dikasih gara-gara harganya naik. Jawabnya tetap: kata bos, ga boleh; kalau mau, harus beli. Ngakak dengarnya.

Di rumah, kalau ada yang belanja, jangankan seratus ribu, dua atau lima ribu, kalau itu memang repot ga dipakai plastik ya disiapkan. Tidak berpikir plastik lagi mahal atau enggak. Biar saja, nanti juga ada rezekinya, Kik.

Kalau segala sesuatu diukur dari sifat materi, ya, ini agak aneh atau terlalu lebay. Walaupun aku memaklumi. Harga plastik yang agak tinggi ini terjadi karena efek pasokan global bahan baku untuk plastik sedang terganggu. Memanasnya perang di Selat Hormuz memang bikin jengkel.

Israel yang dibantu Amerika membuat kecemasan dunia. Apalagi keputusan Trump yang berat sebelah bikin gereget gatal bukan main. Iran sebenarnya terus disudutkan sebagai pihak yang salah. Padahal Hormus milik siapa, siapa yang dahulu memulai perang, dan Amerika ada di pihak mana sebenarnya. Ini amat rancu.

Perang tiga negara yang terjadi di Timteng memang sungguh mengherankan. Iran, negara mandiri itu, dikeroyok dua negara; yang satunya, negara adidaya, dibuat tak berkutik. Iran yang dipandang sebelah mata pada akhirnya membuka sebelah mata. Berani dan tegas itu mutlak harga sebuah pilihan daripada bual-bualan negara asing . 

Ngomongin plastik itu, bisa kita tarik ke penutup atau pembungkus benda. Saya teringat dengan teori Carl Jung dalam psikologi, yakni persona. Persona bisa disebut topeng hidup atau wajah sosial. Dalam bahasa politik, sering disebut pencitraan.

Kata beliau—ini sebagaimana pemaparan Opo Dono di artikelnya—bisa berefek negatif pada mental bersangkutan. Sebab ada "kebohongan" yang ia lakukan, sadar atau tidak sadar. Ini sering menjadi tekanan jiwa untuk waktu yang lebih lama.

Dalam kasus sosial, misalnya, politisi sering menampilkan diri sebagai orang yang merakyat. Bagaimana agar stigmatisasi ini bisa terlihat dan sukses terbaca masyarakat? Caranya ke mana-mana mengakrabi transportasi umum. Memakai pakaian sederhana yang kebanyakan masyarakat gunakan. Menu makanan yang sederhana pula. Bisa pula "mengubah gaya hidup" lain yang inginnya terlihat amat merakyat.

Namun sesudah keinginan tercapai, acapkali lupa daratan. Semua topeng itu tidak disimpan sampai nanti masa tugasnya selesai. Kalau dulu bilang pro rakyat, maka sekarang teriak korporat. Melihat kasus sosial yang selalu jadi ungkapannya, menyudutkan rakyat. Ironisnya,  rakyat kita tahu dan bersikap apatis adanya.

Topeng itu jadi pembungkus. Itulah kenapa topeng sejati itu harganya mahal. Lebih dari plastik kresek yang sekarang dikeluhkan oleh pelaku ekonomi bawah. Sebab setahu kita,  penjual menyiapkan plastik itu tidak untuk dikomersialkan, tapi memang sudah tersedia untuk digunakan membungkus belanjaan pembeli.

Sekarang harus bayar, karena plastik harganya lagi mahal. Kondisi geopilitik dunia tengah bergejolak. Tak aneh, kalau kamu belanja ke Alfa atau Indomaret plastiknya itu tidak gratis alias bayar. (**)

Posting Komentar

0 Komentar