Bukan Diatur Waktu Tapi Kamu yang Harusnya Mengatur Waktu

 

Sumber: MMC Kalteng

Kalau aku harus marah, maka marahku karena ada hal yang membuat fokusku terganggu. Hal yang menjadikan semua prinsip yang aku tata berantakan. Langkah tertatih dan semangat hidup redup.

Kesempatan hidup itu cuma sekali. Ketika disia-siakan untuk hal yang kurang berfaedah, sama saja membunuh perlahan karakter. Tanpa disadari, itu menjadi bumerang untuk kembali fokus pada langkah.

Terus, apa yang mengganggu itu?

Misalnya, saking senangnya scroll medsos sampai lupa waktu. Eh, waktu tiba-tiba melupakanku. Tidak lagi menyapa. Maksudnya, kehilangan arah mengatur waktu bukan diatur waktu itu sendiri.

Seharusnya memang begitu.

Dalam istilah Arab, kita hafal bahwa waktu itu seperti pedang. Ia tajam. Bisa menebas apa di depannya kalau tidak dikontrol dengan baik sama pemiliknya.

Masalahnya bukan tajamnya pedang atau seperti apa rupanya. Tapi bagaimana kamu mengasah dan melatihnya dengan baik? Pedang itu benda sebagaimana waktu.

Banyak orang mengeluh karena kesibukan. Saking sibuknya, lupa waktu sendiri. Padahal waktu itu benda, tergantung kamu mensifatinya.

Atau orang menyalahkan waktu yang berputar sebegitu cepat. Padahal waktu berputar terasa cepat atau lambat tergantung pada perspektif orangnya. Rasa bersangkutan akan berbeda dengan yang lain.

Bagi orang yang sedang jatuh cinta, satu jam bersama orang yang disayangi akan terasa singkat. Tapi satu jam bersama orang yang kamu benci semacam siksaan berbulan-bulan yang membuat kutunya mati.

Bayangkan, kamu tidak bisa apa-apa. Betapa jauh interval waktu yang dirasakan karena penafsiran rasa saja. Ini membuktikan bahwa banyak mengeluh soal waktu yang terus berjalan tidak baik untuk mental.

Allah sampai bersumpah atas nama waktu di surat Al-Asr. Banyak ulama menafsirkan maksudnya: Allah ingin memberitahu kita, hamba-Nya yang kerap nakal dan lalai. Kita memang lalai dengan nikmat Allah. Ya, lalai.

Oleh karenanya, wahai jiwa-jiwa yang lebih senang membicarakan nikmat orang lain daripada nikmatnya sendiri. Sekali-kali, kalau bisa berulang kali, renungkanlah, waktumu dari bangun sampai tidur lagi digunakan untuk apa saja.

Apa itu sudah berhias dengan kebaikan? 

Kamu bukan fokus pada melihat kebaikan orang lain, tapi melihat kebaikan dirimu. Kalau ada, seberapa kualitas amal dirimu tersebut?

Jangan-jangan, apa yang kamu sebut kebaikan dan kebenaran itu hanya klaim saja. Bagus di matamu, belum di mata Gusti Allah. Selama ini kita kan begitu, menilai sesuatu baik karena kita pikir baik. Belum sepenuhnya baik di mata Allah. (**)

Pandeglang, 14 Juni 2026  08.32

Posting Komentar

0 Komentar