Selepas salat magrib aku dan adikku silaturahmi ke Abuya Muhtadi Cidahu. Agak deg-degan sih, harus ngomong apa dan bagaimana. Apalagi ini kali pertama aku bertemu, kalau adikku sih sudah pernah dia mah.
Sebelumnuya, aku memang meminta bantuan untuk ditemani ke Cidahu untuk mengeksekusi tugas kepenulisan untuk konten budaya lokal. Waktunya sudah mepet, jum'at depan tulisan harus dikumpulkan.
"Datangnya pas salat berjamaah saja, kita bareng Abuya," kata adikku. "Nanti saja setelah magrib kita ke sana, pas isya berjamaah sama beliau," lanjtnya,
Dengan motor soul merah kami meluncur ke sana. Ada peristiwa agak menegangkan, saat kami menyebrang di Cikiray menuju jalan Serang-Pandeglang. Hampir saja ditabrak oleh pengendara yang tidak memberi kesempatan kami lewat.
Saking sebalnya, sampai aku menunjuk orang, macam mengajak gelut gitu. Dalam hati aku senyum sendiri, kayak berani saja kalau ditantang balik. Aslinya, melempem. Hihi.
Jam tujuh malam memang waktu sibuk orang pulang kerja. Jalanan padat merayap. Salah adikku juga sih, udah tahu penuh main nyelonong juga. Tuh kan, ada salahnya juga, ya? Untuk tadi gak ngotot.
Setelah sampai di halaman rumah Abuya, kami langsung ke depan rumah Abuya. Di sana ada Aa Mufa dengan tiga tamu yang tengah mengobrol cukup serius. kami tidak bersalaman, karena khawatir menganggu beliau.
Kami hanya bersalaman dengan seorang, yang aku pikir khadim abuya, eh ternyata sama-sama tamu. Pantas, pas kami salaman dia repsonnya biasa saja.
Tidak lama, kami dipanggil oleh seorang santri untyuk masuk ke musola yang letaknya samping rumah Abuya. Di sana, ada dua santri yang aku kira tamu juga. Santri agak berani bertanya, "Mau apa kang,"
ya, aku jujur, ingin silaturahmi dan ingin minta izink ke Abuya rencannya akan menulis sejarah terkait maqbarah Abuya sepuh. Tiba-tiba saja diberi saran, kalau bisa jangan ngomong begituan. Datang ke abuya salaman saja dan minta doa.
"Kemarin saja ada mahasiswa datang ke sini, terus memberi kertas ke abiya 'Abah, menurut abuya gimana tulisan ini' tiba-tiba saja Abah Marah. jadi, kalau akang gak mau kena marah bauya, saya sarankan jangan," pintanya cukup tegas.
Ya, aku jelaskan, sebenreanya aku bukan bertanya begitu sih, lebih meminta izin. soalnyua punya beban, kalau tidak bertemu beliau nanti disangkan hoax meneulis soal makqbarah Abuya.
"Ya, sudah, kalau minta foto boleh ya kang," pintaku.
"Ya, lihat saja nanti. Soalnya Abuya agak lagi sensitif," katanya.
Tidak lama, pintu rumah beliay terbuka, berjalan tertatih ke arah kami. Beliau langsung ke tempat imam dan tak lama iqmat dikumdangkan.
Dalam hati aku berujar: Alhamdulillah, bisa bermakmu langsung ke belaiu.
Di rakat'at pertama masih bsia berdiri, beliau membaca surat at-takasur. Di rakat'a kedua beliau duduk dan membaca surat Al-Ikhlas kalau tak salah. Empat raka'at serasa satu ralka'at saja. Begini ya rasanya salat sama orang alim tuh, seumpama makan pengen selalu menambah lagi.
Seusai salat beliau bebicara ke santrinya senior tentang tamunya. Aku gak terlalu paham
0 Komentar
Menyapa Penulis