Siang tadi aku datang menghadiri acara perpisahan si bungsu di sekolahnya. Namanya Ayat. Ayat tahun ini lulus setelah enam tahun berpeluh mencari ilmu. Enam tahun yang istimewa. Rasanya baru kemarin si bungsu menangis tiap pagi berangkat. Sekarang, menjadi gadis manis akan masuk sekolah tingkat pertama .
Ketika dia bilang kebagian tugas untuk menyampaikan pidato mewakili teman-temannya, di acara perpisahan? Sesungguhnya berpikir, apa ya bisa? Berbicara di depan banyak orang dengan intonasi matang dan bahasa lugas bukan perkara mudah.
Aku sempat memberikan saran pun gestur seperti apa agar tampil prima. Kalau ibarat lomba, juri pasti punya ukuran seperti apa peserta bisa menang atau kalah. Begitu pula dalam konteks ayat.
Setelah aku berpikir-pikir, kenapa harus membantu sebegitunya? Biarkan saja semampu ia mengembangkan potensinya. Terlalu menekan diri agar bagus, seperti apa yang aku mau, tidak baik juga untuk mentalnya. Nanti dia ter-presure.
Biarkanlah ia menghadapi masalahnya sendiri. Kalau dia gagal, maka ia akan memperbaiki di lain kesempatan. Kalau ia sukses dengan apa yang usahakan, ia akan percaya pada dirinya. Katena ia yakin bahwa hasil dari ikhtiar yang ia lakukan bukan paksaan dari orang terdekatnya.
Melihat ia tampil prima dan tanpa teks, aku merasa bangga.
Di titik ini, ada jasa guru yang menguatkannya menjadi ayat sekarang. Ia yang pemalu, kuyu dan sering tantrum; siang tadi menjawab satu kenyataan: ia sudah punya kepribadian.
Selesai di pendidikan dasar bukan akhir pengembaraan keilmuan. Jalan juang masih panjang. Cita-cita masih mengembang. Meninggalkan yang kemarin, fokus menyongsong masa kini yang penuh tantangan. Selamat! (**)
Pandeglang, 21 Juni 2026 23.18
0 Komentar
Menyapa Penulis