Sudah Sejauh Mana Kamu Memaknai Islam Dalam Kehidupan?

 

Tadi malam, aku mengisi kajian di salah satu komunitas majelis taklim online. Di sana, aku menyampaikan perihal memaknai Islam dalam kehidupan. Judul yang sederhana, lugas dan padat.

Namun, kalau kita kaji lebih dalam, tidak seringan itu. Di balik itu, ada kepadatan makna dan poin esensial. Makanya, agak ragu mengangkat judul tersebut. 

Entah kenapa, aku merasa semacam ada dorongan untuk membahas hal tersebut. Islam adalah sebuah wajah kita. Bahasan ini sangat dekat sekali. Mendalami amat menarik karena ia adalah sesuatu yang sering kita dengar, ucap, dan laksanakan.

Kita yang meyakini Allah sebagai Tuhan-Nya dan Muhammad sebagai utusan-Nya, tak cukup saja berikrar serta meyakini. Harus ada bentuk konkret keyakinan tersebut.

Kita sering mendengar Islam itu indah, rahmat, dan penuh kasih. Pertanyaannya, sudahkah kita mempraktikkan nilai-nilai luhur tersebut? Jangan sampai kita sekadar tahu Islam itu begini, Islam begitu. Ketika dikonfirmasi ke dalam jiwa, kita berujar, 'Aku masih sepi dari nilai itu?

dokpri.

Oleh karenanya, ada ungkapan yang sederhana tapi lumayan nyelekit: 

"Orangnya memang Muslim, tapi aku tidak melihat wajah Islam di sana."

Artinya, secara keyakinan kamu muslim, tapi dalam praktik, jauh panggang daripada api. Muslim baru pada tahap teori atau bahkan katanya. Wajah penuh kemarahan, bukan penuh keramahan.

Kata Nabi, barometer orang percaya kepada hari akhir itu ada dua: berkata yang baik atau diam. Lidah itu bisa mengantarkanmu ke neraka karena tak bisa dikontrol. Seperti itu pun jarimu, kalau tak dikontrol bisa mengantarkan ke gerbang penuh siksa penuh api.

Namun, hebatnya, Islam memberi apresiasi terhadap lidah tak bertulang itu dengan kenikmatan besar. Ketika bias dikontrol di jalan yang benar. Lisanmu dijaga agar tidak menguak aib orang. Lisanmu jauh dari kata dengki dan iri. Lisanmu jauh dari prasangka dan caci tiada guna.

Alih-alih sesumbar negatif, lisanmu penuh dengan kata yang membuatmu sendiri bangga. Pikirkanlah, ketika kamu berkata keras dan kasar, seperti apa rasa orang tersebut? Tidak ada bedanya, seperti kamu sendiri yang mendengar langsung orang berkata kasar di depan wajahmu?

Mengukur baik atau buruknya perkataan itu sederhana: apakah si pendengar merasa nyaman dekat kamu? Kalau ia ingin cepat-cepat jauh darimu dan ujaranmu didengarkan dengan penuh keterpaksaan, maka berkacalah!

Benar, omongan yang tidak baik itu dipengaruhi dari luar. Namun, tidak semua orang mampu mengelola diri dan jiwanya sehingga pengaruh dari luar sering menggoyahkan jiwanya. Singkatnya, kalau tak mampu berkata baik, diam saja.

Karena kata nabi, di antara husnul islam itu meninggalkan sesuatu yang tidak berguna. Islam sampai sejauh itu mengatur pola pergaulan manusia. Tidak sedikit kasus kriminal berawal dari lisan yang bisa dikontrol.

Belum membicarakan sejarah Islam, dinamika Muslim dulu dan sekarang, belum juga sampai pada tahap melihat keragaman kebudayaan Islam disorot lewat kajian keilmuannya. Ada banyak hal yang ingin dibahas, tapi lagi-lagi, spektrum Islam itu luas. Mempersempitnya akhirnya menimbulkan keringnya makna Islam itu sendiri. (***)

Pandeglang, 27 Juni 2026   17.07

Posting Komentar

0 Komentar