Pesan Ibu Kadis dan Akhir Kisah Kebersamaan di Oproom Setda Pandeglang

Aku dan Ibu Kadis Perpusda Pandeglang

Sambutan Ibu Neneng, selaku Kadis Perpusda Pandeglang, menjadi simbol berakhirnya kebersamaan kami di Bimtek Kepenulisan Konten Berbasis Budaya Lokal di Oproom Setda Pandeglang (19/06/26). Tiga hari yang penuh kisah. Bagaimana aku, kamu, dan kita menyatu jadi pelajar yang baik. Tak peduli apa jabatanmu, berapa usiamu, dan berapa isi dompetmu.

Kita menyatu dalam simfoni kegairahan pencari oase keterampilan. Satu per satu, narasumber kita meraup pengetahuannya. Kita merasa kok banyak banget yang belum kita tahu. Sepertinya mereka lebih hebat, Semoga kelak aku pun begitu.

Itu seperti ujaran Imam Syafi'i: semakin bertambah ilmuku, semakin merasa banyak hal yang belum kamu tahu. Karena seumpama titisan air di teko, mana mungkin gelas yang datar macam piring bisa menampung banyak lezatnya air dibanding dengan gelas. Begitu pemaparan indah Imam Al-Hadad dalam kalangan ba'lawi.


Sebenarnya tubuhku terasa remuk seusai pulang dari acara Bimtek. Bukan, bukan hatinya rapuh karena dilukai perempuan manis. Bukan pula jadi korban PHP, ngakunya sendiri, tapi aslinya bermain di dua hati. Bukan pula korban scamming karena diam-diam ingin kaya tapi gak mau kerja keras.

Ini murni tidak enak saja. Seperti diamnya langit yang mendung tapi tak terdengar guntur, petir dan tatapan manis rembulan di malam nan sunyi. Ini murni, sekali lagi, badanku kok belum bersahabat dengan dinginnya AC dan kesibukan setelah acara yang cukup menguras tenaga.

Allah Maha Tahu dan aku tidak tahu.

Isi Acara

Kang Naufal tak usah dibahas pemaparannya, beliau mah jempolan. Di usia yang ke-23 tahun, Allah memberi-Nya karunia seperangkat kemampuan public speaking yang baik, pemahaman yang baik, dan attitude yang cerah. Aku bilang begini: bukan karena aku kenal, teman-teman bisa kok melihatnya.


Apalagi ditambah moderator yang tiga hari ini aktif sekali. Ibu Tia, ya, kalau tak salah. Kata-kata beliau renyah diksinya. Barangkali itu yang membuat kita merasa bahwa beliau tahu apa yang ingin kita dengar, bukan apa yang ingin kita tahu saja.

Tentu saja, seperangkat yang lain, baik Teh Desi, Teh Gebrina, Kang operator yang mantengin laptop dan lainnya. Tiga hari bisa berjalan baik dan lancar. Itu bukan perkara mudah, teman.

Ada waktu yang tersiapkan. Ada kesabaran yang dikelola. Ada kemarahan atau mungkin kesal tiba-tiba. Mungkin pula lelah yang membuat keringat bercucuran. Sebab ada selalu titik di mana kita ini manusia yang merasa hidup tak selalu indah, kawan.

Roasting Karya 

Beberapa karya "dibantai", begitu istilah kami di Komunitas Bisa Menulis. Kalau tadi sih, di roasting. Ceileh, Kang Naufal macam stand up saja. Asli, seru sih.

Jadi kita tahu seberapa layak karya kita untuk dipublikasikan. Kualitas itu terlihat justru di awal. Lebih baik dipersoalkan sekarang. Nanti kita bisa memperbaikinya.

Tulisanku berjudul Di balik kengerian Bukit Batu Nuar, babak belur dibantai. Memang benar, tulisan itu belum masuk kategori konten budaya yang disepakati. Intinya, ada banyak hal yang perlu dikoreksi. Aku legowo banget, dengan begitu sadar ternyata kemampuan analisisku masih perlu diasah lagi.


Sebab penulis yang baik adalah mereka yang mau belajar meningkatkan kualitas diri dan karyanya. Bukan mereka yang lekas puas dengan karya sendiri dan merasa karyanya sudah bagus. Sayangnya, itu hanya anggapan semu dirinya. 

Kasihan, kasihan...

Tidak hanya karyaku, karya si perempuan berbandu pun sama tentang Munggahan. Begitu pun tentang Ruwat, juga ibu guru seni dari CMBBS. Kami sama-sama memaklumi. Ternyata kesempurnaan butuh effort juga.

Ibu Kadis Perpusda Pandeglang

Energik, lincah dan low spoken. Kita harus bangga punya pejabat seperti beliau. Dedikasi beliau di bidang literasi bukan kaleng-kaleng. Sebelum acara ini, aku juga pernah bertemu beliau di tempat yang sama dengan tema yang beda.


Seingatku, waktu itu beliau sebagai Kadis Pariwisata. Dinas pariwisata mengadakan debat (atau diskusi) terbuka perihal: sudahkah tepatkah Pandeglang disebut kota santri atau kota wisata? Peserta yang hadir semuanya perwakilan mahasiswa, sementara aku?

Entahlah, mungkin rejeki anak soleh, ya ada saja jalannya. Hihi. Aku yang agak keras mendebat beliau waktu itu. Respon beliau, biasa saja. Yang ada justeru beliau bilang: Pandeglang butuh orang-orang seperti kalian. begitu katanya kepada kami yang mempersoalkan kejumudan birokrasi Pandeglang. Pulangnya, aku diberi oleh-oleh. Hihi.

Jadi saran beliau, ketika aku meminta pendapat bersama Teh Tia dan Teh Desi untuk membahas sosok Abuya Dimyati, daripada menulis catatan perjalanan ke Syaikh Maulana Magribi tengah aku pertimbangkan. Sosok legendaris itu, atau istilah Teh Tia Paku Bumi-nya Banten memang menarik.


Meskipun ada kendalanya, aku harus kroscek ke Abah Muhtadi, putera sepuhnya. "Ah, santri mah gampang nu kitu mah," komentar Teh Desi menguatkan. Dipikir-pikir, ya juga. Ini kesempatan emas, punya alasan kuat dengan menjual nama Pak Eko dan Ibu Kadis biar mudah berbincang dengan Abuya Muhtadi hafidzullah ta'ala. Ada yang mau ikut?

Dari Si Bandu Mungil Sampai Perempuan Berkacamata

Peserta yang hadir bisa disimpulkan 90% adalah perempuan. Kami, kaum laki-laki, adalah minoritas di tengah lautan hijab (meminjam istilah Cak Nun) yang meliputi Oproom. Si perempuan bandu itu sepertinya yang paling aktif. Dari awal sampai akhir minatnya amat tinggi.

Aku yakin yang lain bukan gak bisa, tapi cuma gak mau saja. Buktinya, Bu Umen, guru hebat yang rumahnya terpisah kampung denganku, amat aktif. Lagi-lagi, ini soal persaingan sehat sih. Kalau kamu berani dan mau, semua bisa, kok.

Terkait kacamata ini, entahlah. Orang banyak yang berkacamata. Walau pun mataku memuji pada satu perempuan lembut dan agak jauh, yang entah siapa dan guru dari mana. Itu mengingatkanku pada santriwati di Jawa yang lama tak berkabar.

Kaum lelaki 


Aku kenal beberapa orang dan aku yakin mereka orang seperti aku. Misalnya, Pak Ansori, Pak Jawas, dan Kang Hilman. Selebihnya, aku melihat dan belum menyapa. Aku percaya kami punya semangat yang sama untuk belajar dan memahami apa yang disampaikan pemateri.


Kalau aku bisa menilai kamu, rasanya indah deh kamu juga menilai aku sebagai seorang peserta yang hidup?

Penutup

Terima kasih, kamu sudah membaca tulisan receh ini. Terima kasih kepada orang yang sudah berinteraksi denganku selama acara. Terima kasih buat Mey yang salah aku panggil May terus cemberut karena sudah satu meja yang sama. Terus jadi perempuan kuat dan mandiri. Banyak baca buku beneran, jangan banyak baca konten galau.


Pak Ansor yang ramah. Pak Jawas sudah menelurkan karyanya, tetapi tetap semangat belajar. Kang Hilman yang ceriwis dan selalu berbaik hati mengajak aku plesir, terutama berkunjung mencicipi ayam kampus murah di Kulon. Wajar, kan beliau suka berternak ayam.

Terkait seorang pejabat yang salah masuk ruangan, saya rasa itu tak usah ditulis, ya. Cukup tahu dan senyumin saja.

Terima kasih buat Perpusda. Hebat acaranya. Makasih buat info, Teh Gebrina. Kayaknya selama acara sibuk banget, ya. Hihi. Salam silaturahmi buat semua. Next di kesempatan lain, ya.  Wasalam. (**)

Pandeglang, 20 Juni 2026   00.10

Posting Komentar

0 Komentar