| Kondisi pasar di Pandeglang pada pagi hari. (dokpri) |
Pagi tadi aku ke Pasar Pandeglang. Seperti biasa, berbelanja untuk kebutuhan warung. Pasar yang masih sama dulu aku menginjakkan kaki. Kaki yang sama pula sekarang diinjakkan. Walau pun pasar itu tidak lagi sama seperti dulu.
"Pasar sekarang mah, gak kayak dulu, Yu," kata pedagang kepadaku.
Aku sangat paham ke mana arah pembicaraan itu. Kondisi pasar tidak lagi sehat. Dilihat dari aktivitas transaksionalnya. Kalau dulu tingkat keramaian pengunjung mengenal musiman. Misalnya, kalau musim rambutan itu bulan apa, musim durian bulan apa, itu memengaruhi pendapatan.
Begitu pula bulan Maulid biasanya ramai. Menjelang Lebaran atau setelahnya. Begitu pula awal masuk sekolah, kondisi pasar itu ramai. Pedagang bisa memprediksi kapan mendulang penghasilan dan mempersiapkan stok barang.
"Sekarang mah, Lebaran, ya Lebaran bae," katanya tertunduk lesu. Barang jualannya terlihat masih menumpuk. Waktu sebentar lagi dzuhur.
"Ayena mah tengaruh. Rék penaikan kelas atau henteu, pasar mah biasa bae," kata Bule, seorang pedagang sepatu dan tas, melihat tren pasar.
Biasanya, di bulan liburan sekolah, sehari ada saja sepatu, kaus kaki, atau tas yang terjual. Sekarang tren itu tidak berpengaruh signifikan. Mau musim apa, hari apa, kalau ramai ya ramai; kalau tidak, ya sudah. Toko-toko nampak berjejer tutup. Tidak terlihat ada aktivitas hidup.
Tren pasaran sepi, nyatanya, tidak terjadi di Pandeglang saja. Seorang pedagang di Pasar Cikarang, Jawa Barat, bercerita, yakni Pak Opik. Kata beliau, pasar sekarang tidak seramai dulu lagi. Tiap hari untuk menunggu pembeli pertama saja agak susah.
Bahkan, kunjungan dari orang-orang luar kota saja bisa dikatakan tak ada. Dulu, hari-hari libur sekolah kesempatan mendulang untung, apalagi di hari lebaran. Sekarang tidak berpengaruh hari apa saja. Memang yang beli ada saja, tidak sehangat dulu.
Mungkin kita masih ingat, media nasional pernah menampilkan toko-toko di Pasar Tanah Abang yang tutup. Hal itu karena omzetnya terjun bebas. Penyebabnya adalah penjualan online yang menjual produk dengan harga yang amat murah.
Para pedagang sempat pula "demo" ke pemerintah agar bisa "memblokir" penjual via Tiktok yang sangat meresahkan. Karena mereka tidak punya beban mengontrak toko dan kewajiban formal macam para pedagang, mereka begitu saja menjual produk dengan sangat murah.
"Kalau di pasar, ini harganya 50 rebu, di Tiktok cuma 25 rebu. Belum lagi kalau lagi promo, murah pokoknya." Kata ibu muda yang aktif memscroll harga produk promo di media sosial. Kalau ada yang lebih murah, kenapa harus datang ke pasar?
Kenyataannya, ini tentu saja tidak sehat untuk iklim ekonomi lokal. Sisi lain modernisasi mempermudah kita dengan segala produk dan penemuannya yang hebat. Di sisi lain, mempersulit kita untuk terus terjaga dan survive. Diam tertinggal, melangkah tenggelam di lautan yang penuh risiko.
Solusinya apa?
Aku pikir kita perlu duduk bareng dengan para pakar. Kita perlu berdiskusi dengan mereka agar tahu apa yang baiknya dibenahi dan mana yang perlu diperbaiki pada komponen pasar tersebut.
Bisa juga pada pelaku pasar yang memang bergelut di dalamnya. Apa saja permasalahan akut di pasar tradisional? Mereka pasti tahu selama ini apa yang menyebabkan tren pasar kurang diminati. Apa aturan pemerintah yang bisa menggenjot ekonomi pasar tradisional? Atau ini soal kesadaran dan tantangan zaman saja?
Atau juga, perlu mengikutkan para pembeli yang menjadi komponen terpenting dalam rantai ekonomi pasar? Kenapa ada pergeseran minat membeli dan kunjungan?
Singkatnya, tugas pemangku kekuasaan dan elemen terkait adalah bertemu untuk menggali lebih dalam agar ada solusi nyata nantinya. Bagaimana menurut kamu? Ya, kamu! (***)
Pandeglang, 6 Juli 2026 22.37
0 Komentar
Menyapa Penulis