Menyimpulkan Kajian Ustaz Sriyono di Grup Qolbu Salawat

sumber: Grup WA

Kajian yang disampaikan Ustaz Sriyono tadi, selesai jam 22.00. Tigapuluh menit pemaparan dan sisanya tanya jawab. Kajian seputar: Allah mencintai Orang-Orang Muhsin. Dipandu Bunda Wati sebagai moderator utama.

Moderator tanya jawab oleh Bunda Farisha. Qori dikumadangkan Ustaz Hamid dengan suara emasnya, mendayu lagi menyentuh. Begitu pula salawat dan tawasul yang tak kalah istimewa.

Saya mencatat, di kajian tadi, ustaz menyampaikan perihal orang-orang muhsin itu siapa dan bagaimana laku kesehariannya. Condongnya ke akhlak keseharian yang perlu kita praktekan.

Misalnya, akhlak Sayidina Ali karramallahu wajhah ketika salat sunah. Ada pengemis tidak jauh dari beliau. Beliau, kata ustaz, menjulurkan tangannya yang mana di sana ada cincin. Maksudnya, disedekahkan kepada pengemis tersebut.

Akhlak ihsan itu bisa kita teladani juga pada cicitnya, yakni Imam Zainal Abidin as-sajad. Gelar as-sajad ini sendiri merupakan sebutan karena beliau orang yang rajin sujud (baca: salat). 

Ketika beliau wudhu, yang mana tempat airnya dipegang oleh budaknya, jatuh menimpa kaki beliau. Jangan tanya sakit apa engga, loh  Respon beliau, tersenyum. Tidak hanya itu, budak tersebut dimerdekkan.

Masya Allah. Entah bagaimana kalau keadaanya di balik ke kita, apa mungkin kita mampu tersenyum seperti beliau?

Sebenarnya masih banyak contoh yang beliau sampaikan. Karena kualitas ingatan saya tidak sebagus beliau, hanya beberapa saja mampu saya tangkap.

Membicarakan ihsan ini memang menarik. Karena di masa kecil kita mengingatnya ihsan sering disejajarkan dengan rukun iman, islam, dan ihsan. Tiga fondasi utama muslim meyakini sendi agamanya.

Andai saja seluruh muslim mampu memaknai dan memahami ihsan dengan paripurna, maka nilai keindahan islam itu terlihat cemelang di lingkungan sosial kita. Islam tidak hanya " sekedar kepercayaan" tapi mampu dimanifestasi dalam amalan nyata.

Bagaimana mungkin muslim mau korupsi, mencuri, membegal, dan melakoni laku buruk, sedangkan ia meyakini dengan penuh kesadaran "Allah melihatnya" melakukan amal buruk tersebut.

Bagaimana mungkin ada seorang kiai dan tokoh agama mencabuli dan menghamili santrinya, kalau ia yakin "Allah melihatnya" atau sedikitnya "ia merasa diawasi Allah" pencipta alam semesta. 

Betapa tidak beradabnya ia, seharusnya menjadi teladan malah menjadi pencoreng keindahan ajaran Islam yang menghormati kesucian perempuan?

Ya, kalau saja seluruh muslim memaknai dengan baik, maka tidak akan kita melihat kerusakan dan kebobrokan nyata di lingkungan sosial kita. Namun, dunia adalah ladang ujian, begitu kata Nabi. Benturan antara baik vs buruk, haram vs halal dan sejenisnya adalah sebuah keniscayaan.

Kalau kata Syaikh Ali Jaber, bukan salah islamnya, tapi orang islamnya. 

Kalau mau belajar dengan baik tentang Islam, belajarlah kepada Islamnya, bukan kepada orangnya. Kenapa? Karena muslim pasti punya kekurangan sedangkan Islam luput dari kekurangan karena sudah sempurna.

Kalau meminjam istilah Syaikh Muhammad Abduh dari Mesir, al-islamu mahjubun alal muslimin. Keindahan islam terututup oleh ummat islam itu sendiri. Sebuah kalimat menyentak kesadaran kita.

Kalimat ini respon beliau terkait murid-murid beliau sewaktu di Perancis, yang tergugah dengan kajian-kajian Syaikh Abduh tentang ajaran Islam yang indah dan sejuk. Ketika Syaikh pulang ke negerinya, muridnya ini rindu ingin bertemu beliau sekaligus membayangkan bagaimana keindahan Islam yang dipraktekkan penganutnya di negeri Mesir.

Namun, kenyataan di lapangan tak semanis yang diujarkan syaikhnya. Mereka melihat banyak para lelaki yang kencing berdiri. Mereka melihat kesadaran terhadap sampah juga sangat memperihatinkan.

Maka, ketika itu ditanyakan kepada syaikh setelah bertemu di Mesir, beliau menangis sambil berkata: Keindahan Islam tertutup oleh akhlak buruk muslimnya.

Ada pun terkait sesi tanya jawab, ada pertanyaan menarik dari seorang penanya yang tinggal di Papua, mempertanyakan soal bumi tanpa tiang. Sebagaimana kajian ilmiah mengatakan, bumi tanpa tiang itu dipersoalkan. Disampaikan teorinya, bla-bla.

Ustaz menjawab kepada kitab turats. Ahli tafsir seperti yang beliau kutip, dari sahabat dan Ibnu Katsir memang ada "dimungkinan itu ada". Lebih menarik argumen Imam Fahrurozi perihal ini.

Di ujung penyampainnya, beliau mengingatkan penanya, untuk hati-hati menggali hal begini. Sebab, takutnya, tidak punya dasar pemikiran kuat terhadap keilmuan Islam, akhirnya condong mendewakan akal pikiran dibanding penjelasan ulama sepanjang abad yang masyhur.

Bagi saya, baik penanya maupun penjawab adalah orang yang punya bacaan cukup luas. Itu terlihat dari apa yang penanya angkat adalah soal dimensi keilmuan yang cukup rumit bagi kita orang awam. Ustaz mampu mengimbangi dengan keterangan dari sudut pakar tafsir yang tidak bisa diragukan lagi kapakarannya.

Demikian apa yang dapat saya tulis. Semua ini hanya persepsi yang saya tahu, dengar, dan pahami. Kalau ada salah dan kurang sesuai, maklumi saja, penulisnya masih perlu belajar lagi. Wallahu'alam. (**)

Pandeglang, 7 Juli 2026   00.39

Posting Komentar

0 Komentar