*Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wabihi nasta'inu 'ala umuriddunya waddin. Washshalatu wasshalamu 'ala asyrofil anbiya'i wal mursalin, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'du.*
Jamaah kajian yang dirahmati dan dicintai oleh Allah SWT,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kita bisa berkumpul di majelis ilmu yang insyaAllah penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada teladan terbaik kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
**Jamaah yang dirahmati Allah,**
Setiap kita yang berkumpul di sini pasti mendambakan sebuah **rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah**. Sebuah rumah yang menjadi baiti jannati—surga sebelum surga yang sesungguhnya. Namun, kita juga tahu bahwa perjalanan rumah tangga tidak pernah lepas dari riak dan gelombang.
Sering kali, riak itu bukan datang dari masalah ekonomi yang menghimpit atau pihak ketiga. Musuh terbesar yang diam-diam merusak pondasi rumah tangga justru bersemayam erat di dalam dada kita sendiri. Musuh itu bernama **ego**.
Ego dalam Islam erat kaitannya dengan nafsu. Jika dibiarkan liar tanpa kendali iman, ego akan berubah menjadi kesombongan (*takabbur*), keras kepala, merasa paling benar, dan enggan mengalah.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur'an, Surah Al-Furqan ayat 43:
*“Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”*
Ketika suami atau istri sudah menjadikan egonya sebagai "tuhan", maka hancurlah komunikasi, pupuslah rasa empati, dan rumah yang harusnya menjadi tempat bersandar kini berubah menjadi ring pertempuran.
**Jamaah yang dirahmati Allah,**
Bagaimana ego ini merusak hubungan suami istri? Ada tiga tanda utama yang sering kita jumpai:
1. **Gengsi untuk Meminta Maaf.** Ego selalu ingin terlihat sempurna. Saat kita berbuat salah kepada pasangan, ego berbisik: *"Jangan minta maaf dulu, nanti kamu dianggap lemah."* Akhirnya, masalah kecil menumpuk menjadi dendam yang besar.
2. **Enggan Membuka Hati untuk Memaafkan.** Ketika pasangan berbuat salah dan sudah meminta maaf, ego kembali berbisik: *"Jangan dimaafkan dengan mudah, biar dia kapok."* Padahal, menahan maaf hanya akan menyiksa diri sendiri dan memperpanjang konflik.
3. **Merasa Paling Berjasa.** Suami merasa paling lelah karena mencari nafkah. Istri merasa paling repot karena mengurus rumah dan anak. Ketika masing-masing merasa paling lelah, ego akan menuntut pasangannya untuk terus memaklumi, tanpa mau memaklumi balik.
Rasulullah SAW mendefinisikan kesombongan dengan sangat jelas: *“Al-kibru batharul haqqi wa ghamthun naas”* – Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia (HR. Muslim).
Jika kita menolak nasihat dari pasangan kita, atau meremehkan lelahnya pasangan kita, maka tanpa sadar kita telah memelihara benih kesombongan di dalam rumah.
**Jamaah yang dirahmati Allah,**
Lantas, bagaimana cara kita menundukkan ego demi menyelamatkan rumah tangga kita?
*Pertama*, **Pahamilah bahwa mengalah demi kebaikan bukanlah sebuah kekalahan**. Dalam rumah tangga, tidak ada istilah "menang atau kalah". Jika suami menang melawan istri, atau istri menang melawan suami dalam sebuah perdebatan, sejatinya rumah tangga mereka sedang kalah. Pemenang sejatinya adalah dia yang berani merendahkan egonya demi bertahannya sebuah kedamaian.
*Kedua*, **Belajarlah dari suri teladan kita, Rasulullah SAW**. Beliau adalah seorang nabi, pemimpin negara, dan panglima perang yang gagah berani. Namun, ketika masuk ke dalam rumah, beliau melepas semua jubah kebesarannya. Beliau melayani keluarganya dengan penuh kelembutan.
Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya, *"Apa yang dilakukan Rasulullah SAW di dalam rumah?"* Aisyah menjawab: *"Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya. Jika waktu shalat tiba, beliau keluar untuk shalat"* (HR. Bukhari). Rasulullah tidak gengsi menjahit bajunya yang robek atau memperbaiki sandalnya yang rusak. Beliau menundukkan egonya demi membahagiakan istrinya.
*Ketiga*, **Tumbuhkan sifat Itsar (mendahulukan pasangan)**. Sebelum menuntut hak kita dipenuhi, tanyakan pada diri sendiri: *"Apakah aku sudah menunaikan kewajibanku dengan baik? Apakah pasanganku sudah merasa bahagia bersamaku?"* Ketika suami dan istri sama-sama menurunkan ego dan saling berebut untuk membahagiakan satu sama lain, maka ketenangan yang Allah janjikan pasti akan turun ke rumah tersebut.
**Jamaah yang dirahmati Allah,**
Mari kita ingat kembali momen sujud kita dalam shalat. Saat sujud, kita menempelkan bagian tubuh kita yang paling terhormat—yaitu kening kita—ke atas tanah yang rendah. Itu adalah simbol nyata bahwa di hadapan Allah, kita ini kecil. Keangkuhan kita, harga diri kita yang semu, dan ego kita harus tunduk serendah-rendahnya.
Jika di hadapan Allah kita bisa bersujud serendah itu, mengapa di hadapan pasangan hidup kita—orang yang menemani kita dalam suka dan duka—kita begitu angkuh dan keras kepala?
Mulai hari ini, mari kita bawa semangat sujud itu ke dalam rumah kita. Mari kita rengkuh pasangan kita dengan kelembutan. Mintalah maaf jika salah, dan lapangkan dada untuk memaafkan.
Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan hati kita dari penyakit ego. Semoga Allah membimbing kita semua untuk membangun rumah tangga yang berkah, penuh kasih sayang, dan dikumpulkan kembali bersama keluarga di surga-Nya kelak. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
*Nasrun minallahi wa fathun qarib.*
**Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.**
0 Komentar
Menyapa Penulis