![]() |
| Ilustrasi perempuan yang tengah merencanakan mimpi. (AI) |
Dalam pergumulan saya di dunia maya, saya cukup sering berteman dekat dengan perempuan dari latar profesi dan karakter. Alhamdulillah, semuanya adalah orang-orang baik. Saking baiknya, tak sedikit dari mereka yang bersedia membagikan kisah hidup serta pergumulan pribadinya kepada saya.
Saya selalu percaya---meski mungkin tak semua sepakat---bahwa kebaikan itu bisa ditemukan di mana saja. Tidak semua orang yang kita kenal di dunia maya itu modus. Dunia digital tidak selalu berisi prasangka atau kepalsuan; banyak dari mereka yang hadir dengan kejujuran dan ketulusan niat untuk bersaudara.
Harus saya akui, sebagian dari mereka yang saya kenal sudah berkeluarga. Namun, hal itu Itu tidak menjadi batasan. Pertemanan kami berlandaskan niat murni untuk menjaga silaturahmi serta saling berbagi pandangan positif.
Dari ruang percakapan sederhana inilah, banyak ide dan gagasan justru lahir dari mereka orang-orang biasa. Mereka mungkin tidak memegang gelar akademis yang mentereng, tetapi dibalik kesederhanaan dan kepolosan itu, ada hikmah yang terbuka tabirnya.
Curahan hati yang mereka bagikan tidak selalu persoalan berat. Kebanyakan dinamika kehidupan sehari-hari: kekesalan atas ocehan tetangga, kepenatan menghadapi kenakalan anak, hingga cibiran mertua yang menyayat hati.
Bahkan, ada pula yang berani terbuka mengenai ruang privat dalam rumah tangga--rasa hampa dan kepuasan tak tercukupi persoalan ranjangnya. Ketidakberdayaan itu sempat membawanya mencari kenyamanan pada kenangan masa lalu (CLBK) dan sempat terpeleset ke dalam perselingkuhan. Beruntungnya, nurani dan perlindungan Allah menjaganya untuk selalu berada di jalan yang benar.
"Aku tidak tahu, kenapa rasanya pernah merasa cukup terhubung dengan suami. Dia terlalu fokus dengan dunianya sendiri. Padahal, sebagai perempuan, kami juga ingin dipahami dan dipuaskan. Mau meminta terlalu menuntut terasa sungkan, jadi ya terima saja," tuturnya dengan nada galau yang mendalam.
"Kenapa curhat ke saya? Saya kan belum berpengalaman soal rmah tangga," respon saya santai sambil tawa.
Bagi mereka, kisah itu dibagikan bukan tanpa alasan. Mereka ingin saya belajar dan memahami realitas kehidupan sebelum kelak membangun rumah tangga sendiri.
Niatnya murni untuk memberikan edukasi diri, dan memang, pemahaman tentang ruang domestik serta psikologi perempuan semacam ini sangat berharga untuk dipelajari.
Ada pula kawan percakapan lain yang senang berdiskusi tentang fikih dan isu-isu keislaman yang terasa hangat. Kami saling melempar pertanyaan dan argumen; ada yag kritis, ada pula yang bertanya dengan kepolosan dasar. Semua dinamika itu terasa sangat hidup dan berkesan bagi saya.
Dengan mendengarkan ragam cerita tersebut, saya memperoleh persefektif baru mengenai dunia perempuan. Ketika sarjana klasik seperti Ibnu Hazm berhasil menemukan kelembuatan sera kedalaman hikmah perempuan karena tunbuh dan berinteraksi dekat lingkungan mereka.
Saya pun merasa terdorong untuk melahirkan catatan reflektif dari proses belajar ini. Apalagi, ruang interaksi ini menghubungkan saya dengan perempuan dari penjuru, mulai dari Aceh, Padang, Medan sampai NTT.
Ada satu pesan mendalam yang diujarkan salah satu kawan dengan nada sedikit jengkel:
"Melihat perempuan itu jangan hanya dari sudut pandangan erotis atau fisik semata. Lihatlah kami sebagai manusia yang ingin dipandang terhormat, mulia, dan memiliki ruang untuk berkarya."
Pernyataan itu mengetuk kesadaran saya. Jika kita hanya memandang perempuan dari sebatas relasi fisik, lantas apa bedanya pemikiran kita dengan peradaban purba? Di era modern ini, sudah sepatutnya kita memandang perempuan dari kapasitas, karya, serta kontribusi nyata mereka bagi masyarkat.
Bukankah kita mengenal Ibu Fatmawati karena perannya monumental dalam menjahit Bendera Merah Putih?karyanya berhasil menjahit bendera merah putih? Bukankah kita mengagumi Ibu Kartini karena keberaniannya mendobrak kungkungan zaman melalui tulisan-tulisannya yang tajam?
Begitu pula dengan perjuangan Dewi Sartika yang mendedikasikan hidupnya untuk literasi perempuan hingga melahirkan sekolah-sekolah rakyat. Pada masa perjuangan nasional, kaum perempuan muda sudah aktif menyuarakan pandangan kritis mereka di panggung pergerakan bangsa.
Kita juga melihat sosok HR Rasuna Said, seorang santriwati gemblengan Buya Hamka yang tak gentar keluar-masuk penjara demi memperjuangkan kemerdekaan. Sejarah mencatat bahwa perempuan sejak dulu telah bergerak dan memimpin perubahan.
Lantas, mengapa belenggu pemikiran kaku yang membatasi peran perempuan masih saja dipelihara hingga hari ini?
Diskusi mengenai dinamika dan rekam jejak perempuan memang begitu luas. Belum lagi jika kita menggali sejarah tokoh-tokoh perempuan di sekitar Nabi Muhammad SAW yang menjadi pilar pendukung dakwah Islam, serta para sahabiyah hebat yang menjadi lentera peradaban pada zamannya.
"Kenapa ya," tanya saya suatu hari secara iseng, "laki-laki kalau bicara tentang dorongan emosional atau hawa nafsu sering kali menyempitkannya ke urusan ranjang saja? Berbeda dengan perempuan yang sudut pandangnya jauh lebih luwes."
"Ya, tidak tahu juga," jawabnya singkat.
Meskipun jawaban itu belum sepenuhnya memuaskan rasa ingin tahu saya, saya tidak membanding-bandingkan pertanyaan tersebut.
Pertama, karena pertanyaan itu sekadar intermeso; kedua, karena perempuan cenderung lebih berhati-hati ketika membicarakan ranah sensitif.
Di luar itu, ada realitas psikologis bahwa pria cenderung dominan secara visual, sementara perempuan sangat mengedepankan perasaan.
Pada akhirnya, laki-laki dan perempuan tidak seharusnya membangun tembok pemisah dan hidup di dunianya masing-masing. Keduanya diciptakan untuk saling mengenal, memahami, dan berkolaborasi membangun peradaban yang lebih sehat.
Generasi yang kuat hanya akan lahir dari tatanan di mana setiap pihak memahami peran serta fungsinya dengan baik.
Ini bukan tentang mengadu gender atau menuntut siapa yang harus lebih dihormati, melainkan tentang bagaimana setiap individu dapat memberikan kontribusi terbaiknya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Wallahu a'lam.
Pandeglang, 29 September 2026 23.47

0 Komentar
Menyapa Penulis