| ilsutasi dari Muslim or,id |
"Belum puas mungkin ya," kata seorang jama'ah kemarin malam, tepat saat saya berdiri di tempat imam. Agak terusik sih, tapi sudahlah. Nanti tidak fokus memikirkan salat, yang ada memikirkan omongan orang. Katanya, orang besar sibuk memikirkan gagasan sedangkan orang kecil sibuk membicarakan orang.
Tiap mengalami hal begini yang aku bayangkan adalah bagaimana para ulama menyikapinya. Kasih contoh Buya Hamka. Semasa akhir kepemimpinan Orde Lama, beliau dicap sebagai pengkhianat negara. Beliau pun dipenjara lebih dari dua tahun tanpa ada pengadilan selayaknya pelaku kriminal. Tentu saja, ujaran kebencian dan permusuhan acap terdengar sampai membuat anak-anaknya kesal bukan main.
Ditambah, masa itu novelnya dipermasalahkan oleh kalangan PKI sebagai jiplakan. Cukup lama jadi perbincangan publik. Kita bisa bayangkan bagaimana rasa dan pikirannya Buya pada masa itu. Lagi-lagi para anaknya yang dibuat garang; beliau sih santai saja.
Di masa Orde Baru juga, saat pemilihan ketua MUI, secara aklamasi beliau terpilih. Di masa itu, kata Irfan Hamka, tersiar di luar Buya Hamka menjilat kekuasaan demi terpilih sebagai ketum MUI. Tentu saja itu fitnah keji. Namun beliau tidak ambil pusing, meskipun anak-anaknya tentu saja tidak terima.
Akhirnya, waktu membuktikan, Buya Hamka memilih mundur dari ketum MUI karena dipaksa mencabut fatwa haram soal mengucapkan Hari Natal. Ini jadi titik balik mereka yang tuduhan masih kepadanya menjilat pemerintah, bahwa itu tidak benar. Buktinya beliau konsisten dan memilih lepas jabatan demi idealismenya.
Dari sini saya belajar: penyikapan kepada mereka yang tidak suka dengan kamu adalah bersikap tenang dan fokus. Kalau kamu benar, kenapa harus cemas? Kalau kamu sudah berusaha baik, kenapa resah dinilai sempurna baik? Semuanya ada proses dan waktunya untuk sempurna. Sempurnakan saja prosesnya, nanti juga baik sendiri.
Malam ini hujan deras. Saya bingung mau menulis apa. Terpaksa menulis ini. Hihi. (***)
0 Komentar
Menyapa Penulis