Merasa


 Ketika azan subuh berkumandang, aku bangun. Buru-buru buang air kecil dan wudu. Saat aku masuk ke masjid, iqamat baru saja dikumandangkan. Cepat aku masuk ke barisan jamaah. Setelah itu, lari ke masjid, bergabung salat berjamaah.

Setelahnya, seperti biasa, beraktivitas. Tidak ada yang spesial untuk diceritakan. Paginya jaga warung, agak siang belanja, sore di warung sambil cari waktu membaca, dan malamnya membaca dan menulis di blog. 

Namun, di waktu magrib saat azan berkumandang. Mungkin aku datang agak awal, setelah azan selesai, muadzin tak lama mengumandangkan iqamat. Memang sempat memberi isyarat kepada aku. Ya, aku iyakan. Aku pikir biasanya sudah ada imam yang sudah berotib. Ternyata, tidak ada. Jadilah kemarin aku ke depan jadi imam.

Sebenarnya agak merasa gimana begitu ya, di belakang ada yang biasa jadi iman—cuma lambat datang—kita yang muda seolah merebut "kursi kuasa-nya" tersebut. Di sisi lain, kalau terus berpikir begitu, maka kalangan muda tidak punya mental berani. Padahal segala sesuatu terasa biasa karena dibiasakan dan terus dilatih.

Kalau tidak begitu, mentalnya lemah. Ketika diberi kesempatan, jamaah badanya gemetar dan suaranya tidak stabil. Tentu tidak bisa dibenarkan. Kita butuh orang yang sudah siap secara lahir dan mentalnya agar bisa membimbing, bukan jadi tontonan kegugupan.

Ya sudahlah. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan dan hadapi apa yang bisa mematahkanmu. (***)

Pandeglang, 15 April 2026  23.43 

Posting Komentar

0 Komentar