| gambar hanya ilustrasi. (sumber: ketik) |
Ketika belanja di pasar pagi tadi, aku ingat betul kata-kata seorang pedagang yang amat aku kenal,
"Usia kamu ini sudah pantas untuk menikah. Jadi kapan, nih?"
Agak kaget banget, kok bisa bertanya begitu jelas di depan orang. Entah seperti apa mimik wajahku. Apalagi saat itu, kebetulan banget ada orang yang aku kenal menyapaku. Untungnya aku bisa membelokkan dengan candaan.
Di sisi lain, saat berjalan ke parkiran, aku menimbang-nimbang pertanyaan itu. Memang benar omongan orang itu. Apa yang dia katakan jelas merupakan fakta. Kalau meminjam istilah Kang Abik di novel Dalam Mihrab Cinta, apa yang mereka katakan di ilmu psikologi bentuk perhatian masyarakat kepada kita.
Saat orang bertanya dan terus mempertanyakan kepada kamu "kapan nikah", itu bagian pedulinya orang padamu. Terserah kamu siap atau tidak. Walaupun secara etika kalimat tanya itu berbau sensitif, apalagi kalau ditanya keterusan. Seharusnya, sebagai orang berpengalaman, menghindari pertanyaan tersebut.
Terkecuali, orang tersebut menghawatirkan kenormalannya. Atau memang orang bersangkutan serius ingin membantu secara total. Baik pikiran, tenaga, bahkan uang secara material. Kalau tidak, mungkin diam lebih baik.
Sebenarnya ingin sekali aku menjelaskan kenapa harus aku menunda-nunda pernikahan, apalagi di usia sekarang. Tapi aku tidak yakin orang bersangkutan bisa memahaminya. Dipikirnya menikah ya menikah. Gak usah ke mana-mana. Gak butuh alasan-alasan.
Meskipun ia belum memahami, tiap orang memiliki nasib dan keadaannya yang sama seperti dirinya. Mungkin baginya mudah, tapi tidak bagi orang. Tiap orang punya barometer masing-masing. Bukan terbalik. (**)
Pandeglang, 16 April 2926 00.24
0 Komentar
Menyapa Penulis