Puasa Ramadan Ke-28 2026: Melihat Nasionalisme di kampung Sendiri

Potret di Ujung Kampung Tegal, Kota Kelahiran Penulis. (Dokpri)

Tiap membaca soal nasionalisme, aku selalu membayangkan kampungku. Kampung di mana aku lahir dan besar. Aku meyakini kampung ini adalah gambaran mini Nusantara kita. Negeri di mana kita lahir dan besar di dalamnya.

Kalau melihat persoalan di negeri kita, aku merasa itu ada pula di kampungku. Sesuatu yang melekat dan nampak nyata. Entah berapa banyak buku yang aku baca menceritakan sejarah Indonesia, terutama soal kebijakan politik di berbagai zamannya.

Semua bekerja untuk kualitas Indonesia yang lebih baik, maju dan berperadaban. Dalam prosesnya diwarnai berbagai drama dan cerita yang kadang terlihat damai tapi penuh gelombang; kadang terlihat begitu mengguncang, padahal biasa saja. Hanya karena cara pandang berbeda, semua terasa lain. Aslinya memang tak ada apa-apa.

Begitu pula melihat dinamika kampungku. Aku sering sharing dengan beberapa sepuh dan tokoh pada kesempatan berbeda, secara tak sengaja menceritakan peristiwa seputar kejadian di kampung kami. Baik soal politik, budaya atau terkait perdebatan tokoh-tokoh sepuh di kampung kami. 

Misalnya, perbedaan terkait pilihan  politik ujungnya menyasar pada sentimen ruang pergaulan. Tidak saling sapa dan agak menjaga jarak. Atau gara-gara perbedaan amaliah ibadah. Karena berbeda penafsiran dalil-dalil agama, terjadi gesekan-gesekan panas yang agak akut. Atau soal penentuan puasa, Lebaran dan hal lainnya.

Aku membaca itu sebagai bagian sejarah kampungku. Aku tidak ingin jatuh dalam sentimen-sentimen psikologis atau emosional, walau pun di dalamnya ada peristiwa-peristiwa yang menyeret bagian keluarga kami. Namun, aku belajar banyak bahwa melihat sejarah itu bukan tentang sekarang, tetapi tentang melihat itu sebagai sesuatu yang sudah terjadi dan kita perlu belajar di dalamnya.

Kita harus lebih dewasa dan cerdas lagi menghadapi kemungkinan-kemungkinan konflik sosial. Kita tahu NU dan Muhammadiyah berbeda dalam amaliah ibadah yang furu. NU qunut, Muhammadiyah tidak. Tarawih NU 23 rakaat berikut witir. Muhammadiyah 13 rak'at, berikut witir pula. Tidak perlu dibesarkan perdebatannya, karena semua berdiri dari dalil-dalil bersumber dari Nabi.

Pun sekarang kalau kita berbeda penentuan hari raya, bagiku itu bagian dinamika kehidupan. Tidak usah terlalu diopinikan macam-macam. Biar kita menerimanya sebagai sebuah warna ruang berbangsa kita. Kita tunjukkan akhlak baik yang meneduhkan. Memberi contoh kepada orang awam dan kepada mereka yang non-Muslim terkait nilai-nilai luhur Islam.

Aku pikir begitu lebih baik. Memahami dan memaknai nasionalisme itu tidak selalu "tentang aku", tapi "tentang kita" yang mewarnai kehidupan berbangsa kita dengan napas cinta dan perdamaian. Semoga dengan begitu kita mendapat predikat kamil di akhir puasa kita. Amien. (***)

Pandeglang, 18 Maret 2026   22.44 

Posting Komentar

0 Komentar