![]() |
| Emosi itu normal saat semua terkontrol / RS Pondok Indah |
Siang tadi aku sedikit marah gara-gara asyik tidur, terganggu karena ada yang membeli Dana. Hal yang membuat aku emosi adalah respons dia seolah-olah aku "disuruh" dengan bahasa yang kurang bersahabat. Sedang tidak terlalu kenal, juga tidak terlalu akrab.
Setelah pembeli itu pulang, Emak mengingatkan aku, katanya, bahasa yang aku gunakan itu terlalu keras dan itu gak baik. Kita itu pedagang, harus bisa mengontrol emosi. Seberapa rese pun pembeli, kita harus bisa menampilkan wajah yang ramah lagi menyejukkan.
Itu kalau punya cita-cita, usahanya akan dipertahankan untuk masa depan. Kalau tidak, maka lain ceritanya. Sebagai manusia, kita bisa marah karena terpancing, itu wajar. Namun, pedagang itu suatu profesi yang serba salah. Kita bersikap tegas, akan terjadi kesan yang kurang bersahabat. Sedangkan orang mau membeli meja nyaman sejatinya.
Aku pun menimbang-nimbang apa poin yang emak katakan. Aku meyakini ucapannya, Emak, memang benar, tapi aku tidak bohong, setidaknya hatiku masih jengkel. Jengkel itu tidak begitu saja reda. Butuh waktu aku mencerna kata-kata itu.
Dalam kajian psikologi sendiri, emosi itu respons normal kita sebagai manusia. Ada banyak teori terkait pembagian jenisnya. Kalau kita gunakan teori Paul Ekman, ternyata ada tujuh jenis emosi: bahagia, sedih, takut, jijik, marah, terkejutan, dan menghina. (2026, Hallo sehat)
Namun, dalam penelitian Dr. Robert Plutchik, justru dikatakan manusia bisa mengalami 34.000 emosi dalam keseharian. Ada juga yang mengatakan 10, 15 dan lebih dari itu. Menarik kalau kita hubungkan dengan kajian keislaman, ya. Emosi dipandang sebagai sesuatu yang natural.
Itu ada di setiap manusia. Sikap agama di sini lebih kepada bagaimana kita bisa mengontrol dan mengelolanya. Saat kondisi kita tidak baik-baik saja, maka perlu menjaga emosi itu agar tetap stabil.
Makanya, kalau kita lagi marah tengah berdiri, kita dianjurkan dalam agama, untuk duduk. Kalau masih emosi, maka berbaring. Kalau masih emosi juga untuk berwudu. Setan itu diciptakan dari api dan api akan mati karena disiram oleh air.
Singkatnya, di sini agama hadir tidak mencekal emosi tersebut. Agama memberi arah dan perspektif. Oleh karenanya, kajian kejiwaan sering senada dengan itu. Pada jadinya, harapan ingin memberi kita kiblat dalam melangkah. bukan memagari kita untuk berkembang dalam emosi positif. (**)

0 Komentar
Menyapa Penulis