Berpikir Terbalik

 

Foto seorang kakek yang dianggap aneh tapi akhirnya jadi kebanggaan kotanya.

Tadi siang, saat dikerokin adik, aku mendengarkan ulasan buku di kanal Dibacain: Insight Literasi tentang buku Berpikir Terbalik. Kurang lebih isinya mengajak kita untuk berpikir lebih terbuka dan sederhana.

Misalnya, kalau kita harus memilih antara makan bakso dan mi ayam. Pikiran sederhana kita pasti akan memilih keduanya, tapi bagi orang yang terbiasa berpikir terbaik, mereka bisa memilih untuk menggabungkan saja bakso dan mi ayam dalam semangkuk. Kan bisa toh.

Atau tidak memilih keduanya kalau memang merasa berat. Atau justru memilih saja salah satunya dengan mudah. Keduanya sama-sama makanan kok, enak lagi. Kenapa harus ribet memilih?

Buku itu mengajari kita arti sebuah sikap. Kalau orang bermuka jutek ke kita, kebanyakan orang pasti berpikir: Kok dia gak suka ke aku sih? Salah apa sih aku? Perasaan aku gak ada masalah dengan dia? Apakah dia iri dengan pencapaian diriku?

Pikiran seperti ini, kata buku itu, hanya opini di pikiran kita. Padahal wajar orang jutek kan bisa karena banyak hal. Bisa karena memang bawaan sejak lahir; bisa juga karena karakter dia yang sengaja untuk hal tertentu dibentuk; atau memang ada alasan yang belum kita ketahui. Hal itu bisa kita ketahui dengan mengobrol dengan yang bersangkutan. Kalau sekadar prasangka, maka belum tentu kebenarannya.

Artinya, bisa kita simpulkan, citra yang orang tampilkan ke kita belum tentu dia benci kita. Belum tentu tidak suka, apalagi bermusuhan dengan kita. Coba bayangkan saja, kalau kamu ada di posisi dia, kira-kira apa yang kamu pikirkan.

Mungkin saja dia berwajah jutek karena lagi pusing memikirkan harga sembako yang kerap naik. Secara kebetulan, pas lagi berwajah kurang enak itu, dia bertemu dengan kamu, padahal dia tidak sadar. Dipikirnya, dia lagi gak enak pikiran, maka bebas saja bersikap toh. Lagi gak mood.

Pikiran seperti ini bisa jadi alternatif bagi pikiran yang berseliweran di pikiran. Aslinya saja gak begitu, namun jiwanya berkamuflase seolah-olah begitu. Di buku itu, kita diberi alarm agar bisa menerka kemungkinan-kemungkinan daripada terjebak di satu kesimpulan yang hitam-putih saja.

Hal ini mengingatkan aku akan ceramah Aa Gym, yang mana dalam kesempatan itu beliau berkata agar kita tidak mudah menghakimi seseorang. Misalnya, kita melihat muslimah tidak memakai kerudung. Pikiran orang banyak mungkin akan sanksi, loh, kok katanya muslimah tapi gak berjilbab. Jilbak kan wajib hukumnya, meninggalkannya itu haram.

Kata Aa Gym, kita seharusnya bisa memaklumi. Tiap orang berbeda keadaan. Keadaan ini kerap membuat tak sama. Ada muslimah yang ingin berjilbab, tapi keadaan belum memungkinkan, maka ia menampilkan apa yang ada. Kalau memilih memakai kerudung, keselamatannya terancam.

Bisa juga karena dia tidak dapat izin orang tua, bos, atau lingkungan yang kurang bersahabat. Dia bukan benci jilbab, tapi keadaan belum memungkinkan seperti orang. Di sini kata Aa Gym: perlunya kita bijak. Gimana menurut kamu? (*)

Posting Komentar

0 Komentar