Curhatan Bapak Ojol Perihal Anaknya yang Menikah Selepas S2

 

Potongan layar terkait curhatan ojol kepada pelanggannya.

Seorang bapak ojol curhat kepada konsumennya sambil berkaca-kaca. Kepada gadis muda di hadapannya, ia berpesan agar tidak dulu menikah. Bahagiakan dulu orang tuanya. Fokus mengejar masa depan yang sudah ia cita-citakan. 

Lantas ia bercerita perihal anaknya yang ia sekolahkan, lantas ia kuliahkan sampai S2 dengan biaya yang ngos-ngosan. Pinjam sana-sini. Namun sayang, setelah selesai kuliah, bukannya berkarier untuk meringankan beban orang tuanya. 

Anak itu memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya. Akhirnya, pendidikan yang begitu istimewa itu berakhir di dapur rumah tangga. Cita-cita yang ia teriakkan selama ini pupus. Sakit hatinya. Pilu jiwanya.

Ekspektasi bapaknya runtuh sudah.  Anak yang ia gadang-gandang itu memilih menikah. Anak yang ia harapkan kariernya menunjang masa depannya nanti memilih mengakhir masa lajangnya dengan kekasihnya. Sungguh pilu curhatan Bapak ojol itu… 

Sontaknya saja, video tersebut viral di ranah media sosial. Terjadi gelombang tanggapan. Terjadi pro kontra. 

Sebagian kalangan berpikir keluhan Bapak ojek itu wajar adanya. Anak itu aset orang tuanya. Kalau di masa senjanya berharap anak kandungnya meringankan beban hidupnya di keadaan yang sudah ringkih itu, adalah maklum. 

Justru yang kurang ajar adalah anaknya yang lebih mengutamakan egonya. Tidak berpikir bagaimana dulu orang tuanya bisa begitu keras agar pendidiknya bisa melanjutkan sampai lulus. Ketika jerih payahnya dituai, ia mengabaikan keinginan bapaknya tersebut.

Di kutub lain, suara menyalahkan sikap bapaknya tak bisa dihindari. Tidak selayaknya ia curhat begitu kepada orang lain yang baru dikenalnya. Nasib orang berbeda-beda. Kenapa harus membandingkan anaknya dengan nasib orang lain?

Anaknya pun punya hak untuk menentukan masa depannya. Ada pun urusan pendidikan sampai selesai bukannya itu hak anak dari orang tuanya, ya? Anaknya, pada dasarnya, punya hak untuk menikmati hidupnya, salah satunya dengan keilmuan yang cukup untuk menyongsong masa depan yang penuh tantangan.

Keilmuan itu pisau bedah agar ia bisa terampil dan mampu bersaing. Itu membantu agar bisa survive di masa lain. Tidak selayaknya orang tua menjadi "Tuhan yang menghakimi" nasib anak kandungnya. Anak yang ia lahirkan dan besarkan dengan segenap cinta. Permata dan mutiara indah di jiwanya.

Kok sekarang masih hitung-hitungan secara matematis? Apa ini terkesan tidak ikhlas, ya?  Pengabdian yang tulus itu ternoda oleh keinginan dan egoisme dirinya. Ia ingin nasib anaknya baik dan sukses, tapi bukan dengan ingin anaknya, hanya inginnya.

Di sini terjadi paradoks sikap, antara harus jadi teladan dan harus diluruskan sikapnya. Entahlah, semua terasa masih abu-abu. Potret bapak itu adalah realitas sosial kita. (***)

Pandeglang, 17 Mei 2026  22.19

Posting Komentar

0 Komentar