Melawan Islam Galak

 

Gerakan anti tyoleran/pixabay.com

Dalam sejarahnya, gerakan Islam galak sering ditujukan kepada sekelompok orang yang punya pemahaman yang kaku, keras, dan kurang bersahabat dalam menafsirkan teks agama. Di sini sangat jelas: letak soalnya di "orangnya", bukan "agamanya". Nanti, di belakang hari sering mengarah ke ajaran agama itu sendiri, bukan ke orang yang bersangkutan.

Tentu saja ini rancu, karena agama akhirnya menjadi korban. Fatwa-fatwa keras, kata-kata yang monoton dan pikiran yang jumud adalah tontonan yang nyata. Ini diperparah karena ada kepentingan politik dan juga media yang tendensius mengabarkan secara sepihak. Akhirnya, terjadi opini publik seolah membenarkan "ajaran Islam" itu memang galak. Bulktinya, pelaku amoral, intoleran, dan radikal kerap terjadi.

Puncak istilah ini muncul ketika gedung kembar WTC yang "dibakar/ditabrak pesawat" tanpa awak. Wajah Muslim galak menjadi-jadi karena kerap muncul di media dengan potongan argumen tokoh—sengaja dipotong—menambah tanda tanya di benak ummat Islam sendiri maupun mereka yang bukan non-islam.

Buahnya bisa kita baca: laporan organisasi hak-hak sipil mengatakan Islamofobia kembali naik pada tahun 2023: lebih dari 8.000 insiden tercatat, peningkatan 56% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022. Untungnya, PBB merespons gejala sosiologis ini dengan menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia atas peningkatan sentimen beragama.

Hari Islamofobia ditetapkan sebagai respons mengenang peristiwa penembakan masjid Christchurch di Selandia Baru yang terjadi pada 15 Maret 2019, yang menewaskan 51 jamaah dengan cara yang sangat brutal. (Wikipedia, 2026).

Kita pun digegerkan pada tahun 2025 oleh "peristiwa intoleran" di Sukabumi, di Pedang, maupun di Bekasi. Banyak analisis terkait peristiwa tersebut, namun banyak yang menduga, termasuk saya, karena jalur komunikasi belum tumbuh dengan baik. Terjadi kesalahpahaman merujuk pada kecurigaan. Barangkali itu penyebab awalnya. Selanjutnya ada tafsiran-tafsiran lain yang bisa karena kurang baca, kurang bijak atau kurang mendalami ajaran kasih di dalam Islam.

Dalam sejarah peradaban Islam sendiri, konflik agama terjadi bukan karena "agama itu sendiri", tapi lebih kepada "kepentingan politik" atau "penafsiran teks agama" yang berwujud ke dalam gerakan masif. Kita bisa melihat puncaknya pada kepemimpinan pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan dan semakin masif pada awal kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib.  

Singkatnya, kepentingan kekuasaan ini jadi rancu dengan kepentingan agama dan kepentingan sendiri atau kelompoknya. Citra salah yang ditangkap media akhirnya dikonsumsi masyarakat tanpa dikunyah terlebih dahulu. Terjadi distorsi di tengah kita, tercipta ketegangan-ketegangan konflik sosial yang seharusnya kita sudah dewasa menyikapi hal tersebut.

Tantangan Muslim sekarang adalah upaya menampilkan wajah Islam yang cerdas dan bersahabat. Baik kepada sesamanya maupun kepada mereka yang berbeda dengan kita. Perbedaan itu bukan untuk mencurigaan, tapi untuk gerakan bersama membangun negeri sesuai keyakinannya. Kita harus berusaha membendung pikiran-pikiran galak agar lebih sejuk.

Menyongsong dunia yang tidak baik-baik saja, kita harus pintar membaca pesan-pesan agama. Intisari agama melatih kita adem dan jujur dengan keyakinan itu. Oleh sebabnya, mana bisa kita tahu intisari agama tanpa kita amat malas menggali pun belajar ilmu agama. 

Islam yang galak akan redup dengan sendirinya kalau kita sama-sama menyadari bahwa ajaran Islam humanis. Islam memang mengajarkan ketegasan, tapi bukan kekerasan. Islam mengajarkan keberanian, tapi bukan kesemberonaan. Islam memang mengajarkan kecerdasan, tapi bukan berarti kurang perhatian. Wallahu'alam. (***)

Pandeglang, 4 Mei 2026  00.51

Posting Komentar

0 Komentar