Waktu terus cepat berjalan. Tak terasa sudah ke dua puluh delapan. Tak ada kata dan sapa. Tak ada kabar yang membuat kita saling bercerita dan tersenyum ceria. Meski pun jarak memisahkan, meski pun di smartphone menyambungkan rindu, ternyata itu jauh lebih hangat daripada tak ada kata-kata.
Selama itu, aku berusaha untuk tegar dan terjaga. Aku pikir itulah harga dari ketidakmampuan. Apa artinya bertahan kalau bayang-bayang ketidakpastian masih terus menghantui? Sungguh, itu tidak baik-baik saja.
Apa kamu baik di sana?
Aku jadi ingat cerita Dilan selepas putus dengan Milea. Mereka masih saling cinta, tapi karena saling membuat jatah, maka semuanya terasa hampa. Tersa Sunyi.
Hidup mungkin begitu, ya. Kita merasa sepi bukan karena memang sepi adanya, tapi sepi itu kita yang menciptakannya. Kita yang merasakan lantas mendramatisirnya. Padahal, bersama dia pun kita bisa sepi dan merasa sunyi kok.
0 Komentar
Menyapa Penulis