| Gambar yang aku ambil di cabang gudang JNE Cikiray. (dokpri) |
Sore itu, hatiku tidak sedang baik-baik saja. Dari tanggal satu sampai lima November, paket itu belum aku kirimkan juga. Rencananya, tepat di hari ulang tahunnya, aku ingin memberi kejutan. Tahu-tahu paket itu ada saja di tangannya. Biar so sweet gitu. Hihi.
Alasan tak mengirim karena kesibukan. Selain itu, karena paket itu niatnya memang kejutan, aku tak ingin seisi rumah tahu. Apalagi sampai ketahuan Emak, hadeuh, bisa habis kena ejekan nanti. Itu belum termasuk nasihat-nasihat bijaknya juga. Hiks!
Esoknya, kupacu sepeda motorku dengan kecepatan agak tinggi menembus hujan deras yang membasahi langit kota kami. Tujuanku ke gudang JNE. Soal jasa mengirim barang, JNE memang bisa dipercaya.
Hari itu, ada “sekotak cinta” yang ingin aku kirimkan kepadanya, yang terpisah jarak ribuan kilometer pun terpisah pulau. Kalau tidak salah, itu hari Jumat, tanggal 7 November. Kebisingan lalu-lalang kendaraan menambah riuh di jiwa.
Itu kali pertama aku memberanikan diri untuk mengirim langsung. Biasanya lewat adiku. Taksiranku, mengirimkan langsung pasti ribet. Jawaban itu begitu saja hempas. Tepat ketika aku membuka pintu, terdengar sapaan hangat abang resepsionis, “Selamat datang di JNE. Apa yang bisa kami bantu, Kak?” dengan sorot ramah dan senyuman hangat.
Aku merasa sapaan itu tidak dibuat-buat. Sebagaimana biasa, aku ditanya mau mengirim apa, ke mana, dan ke siapa. Namun, aku agak kaget ketika aku bilang akan mengirim ke Madura, Jawa Timur. Abang itu justeru berbicara lebih banyak. Itu membuat aku heran.
Katanya, di seberang jalan ada toko Madura. Ada hal yang membuatnya tersentuh, yakni tiap magrib pasutri itu sering mengaji Al-Qur’an bersama. Kalau ada yang beli, di jeda sebentar. Setelahnya, dilanjutkan lagi. Baginya, itu tontonan sederhana tapi menyentuh. Tentu saja sangat mahal di era di mana kehangatan keluarga acap kali terdistorsi oleh smartphone. Makna keluarga tersekat oleh benda segi empat itu.
Seperti kita tahu, Madura termasuk kota santri. Di mana-mana, mudah sekali kita menyaksikan pondok berdiri gagah dengan ribuan santri di dalamnya. Di sana juga, sejarah mencatat ulama besar Nusantara yang melahirkan ribuan ulama kaliber.
Tak aneh, orang Madura tulen memiliki keyakinan terhadap ajaran agama yang kental. Aku ceritakan, di Madura masih ada tiap minggu atau tiap bulan tiap rumah khataman al-Qur’an. Nanti syukurannya bisa keliling. Bahkan, di sana para penghafal al-Qur’an mudah kita temukan di tiap kampung.
Respons si abang itu menampilkan citra baik. Kesan terhadap perusahaan ekspedisi terbesar di Indonesia ini tiba-tiba bergeser. Bayangkanku terhadap sambutan yang datar dan monoton ternyata tidak aku alami. Di balik meja yang tidak terlalu besar itu, JNE seolah menempatkan aku sebagai seorang teman yang lama baru ketemu.
Teman yang inginnya apa dan selama ini ngapain saja? Kita tahu pengalaman JNE menyasar sampai ke pelosok negeri memberi angin segar; jarak tidak lagi menakutkan. Kisah cinta yang terpisah jarak seperti yang kami jalani tidak lagi jadi hal musykil. Aku bisa bayangkan bagaimana ia tahu ada sekotak hadiah datang ke rumah.
Benar saja, tiga hari setelah itu, aku diberi kabar, katanya ada kurir JNE ke rumahnya dan memastikan apakah namanya sesuai dengan yang tertera. Bahkan ia memotret kurir itu untuk memastikan apakah benar aku yang mengirimkan sekotak benda. Tadinya aku ingin bermain-main, tak mau mengaku. Tapi tak tega juga melihat responsnya. Akhirnya aku jujur: aku yang mengirimnya. Sekotak cinta untuknya di pulau sana.
Pandeglang, 6 Juni 2026 22.15
#ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita
0 Komentar
Menyapa Penulis